PENASULTRA.ID, BAUBAU – Selama kurang lebih sekitar 15 tahun Lembaga Adat Kesultanan Buton dualisme kepemimpinan, akhirnya kembali dipersatukan.
Sebelumnya ada dua Lembaga Adat Kesultanan Buton, yaitu lembaga adat versi Rau dan lembaga adat versi Baadia.
Saat ini kedua versi lembaga ini akhirnya sepakat untuk bersatu demi membawakan nama lembaga yang sama yakni Lembaga Adat Kesultanan Buton dan menutup ruang bagi lembaga adat yang lain.
Penyatuan kedua lembaga ini dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau demi melestarikan budaya masyarakat Buton yang telah diwariskan oleh para leluhur yang selama ini terpecah menjadi dua versi lembaga kesultanan.
Hal itu diungkapkan oleh Asisten I Setda Kota Baubau, La Ode Aswad dengan adanya kesepakatan Lembaga Adat Kesultanan Buton mengakhiri polemik dua versi Lembaga Adat Kesultanan Buton yang sudah memakan waktu yang cukup lama.
“Kita sudah sepakati namanya Lembaga Adat Kesultanan Buton dan sekretariat sementara di Kantor Wali Kota Baubau. Karena disini sudah sekretariat maka tentu harus berbadan hukum dan soal pengurus diserahkan pada pembicaraan antar dua lembaga yang sudah bersatu ini,” kata La Ose Aswad saat jumpa pers di Aula Kantor Palagimata, Senin 5 Agustus 2024.
Menurutnya, setelah kesepakatan ini terbangun maka kedua belah pihak diminta untuk menyusun personil-personil yang akan duduk di Lembaga Adat Kesultanan Buton dan akan dilaporkan ke Pj Wali Kota Baubau dalam waktu dekat ini.
Senada Bontona Peropa (Lembaga Adat Kesultanan Buton versi Baadia), Masri mengucapkan syukur dengan inisiatif Pemkot Baubau untuk menyatukan lembaga-lembaga adat yang ada di Kota Baubau supaya menjadi satu lembaga adat.
Ia berharap dengan bersatunya Lembaga Adat Kesultanan Buton menjadi lembaga adat yang kredibel maka ketika ada kegiatan-kegiatan, baik di Baubau maupun di luar Baubau maka lembaga adat inilah yang akan ditonjolkan.
Discussion about this post