Promo Pena

Kampanye di Rukuwa, Kaum Milenial Persembahkan Puisi untuk HATI

PENASULTRA.ID, WAKATOBI – Pasangan calon (Paslon) bupati dan wakil bupati Wakatobi nomor urut 2, H. Haliana dan Ilmiati Daud (HATI) selalu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya dukungan itu datang dari kaum milenial saat berkampanye dialogis di Kelurahan Rukuwa, Kecamatan Binongko.

Promo Pena

Dalam kampanye, kaum milenial mempersembahkan sebuah puisi untuk pasangan HATI sebagai isyarat memberikan dukungan secara politik.

Namanya Halisa, milenial sang pembaca puisi itu. Ia mewakili milenial gender lainnya, memberi kritik terhadap pemerintahan yang hampir purna. Namun janji tak kunjung tiba untuk warga negeri pulau tukang besi.

Ia berharap, kepada pasangan Haliana dan Ilmiati Daud, jika diamanahkan rakyat memimpin Wakatobi jangan pernah menjanjikan rakyat kesejahteraan berbalut kebohongan yang dapat menyakiti hati rakyat.

Begini bunyi puisi kaum milenial itu:

Hati Bahasa Cinta Kaum Perempuan

Karya: Halisa

Janji telah jadi sampah membusuk bersama ruang-ruang suara.Gemakan janji lantang Wakatobi harus sejahtera.

Berjalan namun merangkak
Realisasi janji telah usang menjingkrak.

Bukti hanya omong kosong
Sejahtera itu hanyalah kaleng kosong. Nyaring berbunyi di tong kosong.

Sayang, kami adalah perempuan yang tak pernah belajar politik belah bambu.

Pena Maulid

Akhirnya Kami tak tau tempat untuk mengadu.Kala aspirasi di konspirasi Oleh para oligarki.

Sayang, kami adalah perempuan yang tak pernah belajar  menagih janji. Tapi Jika janji telah dikhianati, jangan salahkan kami pindah ke lain hati.

Hati bisa luluh oleh rayuan,
Hati juga bisa hancur oleh rayuan,
Hati bisa menimbulkan cinta,
Hati lebih bisa menimbulkan luka.

Apa solusi bagi kami kaum perempuan?

Perempuan itu rahim peradaban,
Ia mengubah amarah menjadi kasih sayang. Perempuan itu rumah cinta di bawah telapak kakinya adalah surga. Memberdayakannya adalah kesejahteraan.

Untuk itulah kita butuh hati
Jika marah kembalilah ke hati
Jika rindu kembalilah ke hati
Jika kecewa kembalilah ke hati.

Hati adalah bahasa universal
Terletak di dekat lengan untuk melindungi merangkul.

Atas nama perempuan,,,
Mari mendidik atas nama Hati, karena hati mendidik dengan cinta. Ini bahasa generasi perempuan tak bisa kuliah hanya karena ekonomi.

Mari bergerak atas nama Hati, karena hati tidak mengintimidasi
Sssttt… ini bahasa ibu – ibu PKH.

Mari berjuang bersama Hati, karena hati adalah bahasa cinta kaum perempuan.
Sedih rasanya,,, ini bahasa ibu – ibu yang membutuhkan dokter spesialis kandungan.

Demikian narasi puisi yang dibacakan Halisa, milenial kaum gender pengharap perubahan untuk masa depan ribuan milenial di Wakatobi, Binongko pada khususnya.

Penulis: Deni La Ode Bono
Editor: Bas

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.