“Saya baru memahami ternyata stunting tidak hanya masalah pendek, tetapi pengaruhi seluruh metabolisme tubuh, sehingga bisa menyebabkan kegagalan berkembangnya organ-organ tubuh,” katanya.
Untuk itu, Basiran menginstruksikan kepada berbagai pihak terkait, mulai dari kepala dinas, camat, lurah/desa, RT RW, penyuluh KB, pendamping keluarga, bidan, posyandu bersama-sama mengampanyekan pemberantasan stunting dari Buton.
“Kita kampanyekan ke seluruh Kabupaten Buton, kita berantas dan turunkan stunting. Jangan hanya ibu-ibu, tapi semua bapak-bapak camat, kepala OPD harus tau itu,” tekannya.
Saat memberikan materi pada kegiatan itu, Deputi BKKBN Pusat, Prof drh Muh Rizal Martua Damanik mengatakan, Indonesia lagi menghadapi masalah besar yakni stunting dimana angkanya 24,4 persen artinya dari 100 orang ibu yang melahirkan sudah dalam kondisi stunting 24 orang.
“Indonesia dapat penghargaan internasional sebagai ketahanan pangan, tetapi dalam waktu bersamaan kita hadapi masalah besar yakni masalah stunting,” katanya.
Prof. Damanik menjelaskan stunting terjadi mulai pada proses pembuahan antara sel telur dan sel sperma hingga 1.000 hari pertama kehidupan.
Stunting itu adalah gagal tumbuh dan kembang karena kekurangan gizi pada anak yang seharusnya tulang tangkai panjangnya 70 cm tapi gagal hanya tumbuh 40 cm akibat kekurangan gizi. Akibatnya anak stunting itu pendek.
“Makanya dibilang itu stunting pasti pendek, tapi pendek belum tentu stunting. Tapi gangguan tumbuh kembang itu tidak hanya menyerang tulang tangkai kaki, tetapi mengganggu secara keseluruhan organ tubuh kita, karena stunting prosesnya mulai terjadi pada saat sel telur dibuahi oleh sel sperma,” jelas Prof. Damanik.
Bahkan, lanjut Deputi, stunting juga mengganggu pertumbuhan sel otak, sel-sel organ lain yang menyebabkan anak hidup dengan segala kekurangan pada otak yang kurang cepat memahami sesuatu atau orang kurang berkembang.
Untuk itu kata Prof. Damanik, saat ibu mengetahui mengandung maka sudah harus memperhatikan asupan gizinya, karena proses tumbuh dan kembang sudah dimulai.
“Yang terpenting lagi yang mesti dilakukan oleh ibu adalah memberikan ASI eksklusif kepada bayinya, karena dalam ASI itu sudah lengkap zat-zat gizi yang dibutuhkan bayi saat lahir. Jangan sampai ada ibu dengan alasan tertentu yang tidak substansi kemudian tidak memberikan ASI-nya kepada anak,” tukasnya.
Diketahui, kegiatan di tiga daerah tersebut juga dirangkaikan dengan penyerahan alat teknologi tepat guna (ATTG) kepada UPPKA di Kabupaten Buton. Penyerahannya dilakukan langsung oleh Prof. Damanik.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post