PENASULTRA.ID, AMBON – Ribuan Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan personel Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) di lingkup Kodam XVI/Pattimura menjalankan tugas khusus untuk mengawal dan mendampingi keluarga berisiko stunting.
Berdasarkan hasil Pendataan Keluarga tahun 2021 (PK-21) yang dimutakhirkan pada 2022 dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), terdapat 97.563 keluarga berisiko stunting di Provinsi Maluku. Jumlah keluarga berisiko stunting itu tersebar di 1.235 desa/kelurahan, 118 kecamatan dan 11 kabupaten/kota di Provinsi Maluku.
Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku bersama TNI memberikan pembekalan kepada Babinsa dan Kowad untuk mendampingi keluarga berisiko stunting Jumat 9 Juni 2023 di ruang Yudha Makodam XVI Pattimura.
Pembekalan dilakukan untuk memberikan pemahaman agar nantinya Babinsa dan Kowad bisa mengedukasi masyarakat pada tempat tugasnya masing-masing.
Pangdam XVI Pattimura Mayjen. TNI Ruruh A. Setyawibawa dalam sambutan yang dibacakan Kasdam XVI Pattimura Brigjen TNI Agung Pambudi menyampaikan Komitmen Kodam XVI Pattimura dalam menangani stunting secara nyata diantaranya dengan membuat surat perintah kepada seluruh jajaran Kodam XVI Pattimura guna melaksanakan pendampingan kepada anak penderita stunting.
“Kodam XVI/Pattimura akan menjadikan para Kowad sebagai Danramil dan Babinsa yang akan bertugas di seluruh wilayah Kodam XVI/Pattimura, sehingga kehadirannya di wilayah benar-benar dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam membantu peran kader desa untuk melakukan pendampingan bagi keluarga berisiko stunting dan anak stunting yang menjadi tanggung jawab di wilayah tugasnya masing-masing, sehingga dapat meminimalisir dan menekan angka penderita stunting di wilayah Provinsi Maluku,” katanya.
Sementara itu, Deputi KBKR BKKBN RI dr. Eni Gustina yang hadir dalam pembekalan memberikan arahan upaya percepatan penurunan stunting dilakukan bersinergi dengan cara bekerjasama dengan semua pihak.
Eni mengatakan, BKKBN membutuhkan TNI untuk berkolaborasi dalam upaya percepatan penurunan angka stunting di Indonesia.
“Kita harus bekerja dengan semua pihak karena stunting ini multifaktor tidak bisa diselesaikan dengan salah satu pihak. Untuk itu, TNI dan jajarannya dapat mengidentifikasi anak yang stunting dan keluarga berisiko stunting di wilayahnya,” kata Eni.
Babinsa dan Kowad dalam melakukan pendampingan keluarga, kata Eni nantinya perlu memberi penguatan dan edukasi ke masyarakat tentang pemberian makanan yang mengandung protein hewani seperti contoh pemberian ikan karena Maluku kaya akan ikan, atau minimal telur dua butir per hari.
Menurut Eni, intervensi bukan hanya lewat makanan tapi edukasi perilaku orangtuanya memberikan makan kepada anaknya 3 kali sehari dalam hal pemenuhan gizi anak.
“Saya berharap intervensi bukan hanya makanan tapi edukasi perilaku orangtuanya memberikan makan kepada anaknya 3 kali sehari dalam hal pemenuhan gizi anak dengan seperti ini kita bisa mengubah perilaku orangtua, karena perilaku sangat penting sekali apalagi soal pemahaman asupan makan yang diberikan serta gizi yang seimbang,” ujar dia.
Discussion about this post