Dalam kaitan itu pula, kata Teuku, Kementerian Luar Negeri bekerjasama dengan Dewan Pers menyelenggarakan BCSMF Intersession yang diharapkan dapat menjadi wadah untuk menjaring aspirasi mengenai isu-isu yang esensial bagi kalangan media.
Adapun pembicara yang tampil dalam diskusi tersebut adalah Guy Berger dari UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB), Tokoh Pers yang juga CEO PT Tempo Inti Media Tbk Bambang Harymurti, dan Dian Gemiano dari Kompas Gramedia Group.
Ketiga pembicara pada intinya mengingatkan bahwa insan pers dalam menyikapi perkembangan teknologi informasi tidak cukup hanya bersikap adaptif dan antisipatif, tetapi bahkan harus mendesain masa depan pers itu sendiri.
Guy Berger menegaskan perlunya pers yang kuat, sebab media yang berpengaruh sangat penting untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan menciptakan apa yang disebut budaya damai (culture of peace).
Sementara itu, Bambang Harymurti menjelaskan perjalanan atau sejarah industri pers serta mengingatkan perlunya insan pers mengikuti perkembangan zaman, dan Dian Gemiano mengingatkan perlunya pers meredefinisi bisnisnya ke depan, terutama agar pers menjadi kuat secara finansial.
“Bagaimana pun, untuk menjadikan pers yang independen maka harus diciptakan pers yang independen secara finansial,” kata Gemiano dalam diskusi yang juga dihadiri Anggota Dewan Pengawas Facebook yang juga mantan Pemred The Jakarta Post, Endy Bayuni.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post