Asmar menambahkan, ada banyak makanan alternatif yang tersedia di sekitar kita yang mengandung gizi setara dengan makanan yang dianggap mahal selama ini. Makanan untuk mencegah stunting seperti ikan atau telur sudah cukup, proteinnya besar tidak kalah dengan daging sapi.
Asmar berharap, Dashat berbasis produk lokal menghadirkan jenis produk yang bisa menjawab kebutuhan gizi seimbang dan tantangan..
Selain itu juga menurunkan kekerdilan dan mencerdaskan kehidupan keluarga, menjadi keluarga yang berkualitas dan kampung keluarga yang berkualitas serta pada akhirnya menjadi bangsa yang besar, unggul dan maju sesuai yang dicita-citakan oleh Presiden RI Joko Widodo dan kita semuanya.
Untuk diketahui data Stunting di Sultra mampu mecapai 30 persen dari total jumlah penduduk di Sultra yang mencapai 2,7 juta bedasarkan data statistik per Tahun 2019.
Asmar merinci, jika dilihat dari data per kabupaten/kota, maka posisi tertinggi penderita Stunting berada di Buton Selatan sebanyak 45,2 persen, menyusul Buton Tengah 42,7 persen, Buton 33,9 persen, Konawe Kepulauan 32,8 persen serta Kabupaten Muna 30,8 persen dan Konawe Utara 29,5 persen.
Kemudian untuk Kabupaten Kolaka Utara mencapai 29,1 persen, Muna barat 29,0 persen, Konawe Selatan 28,3 persen, Kota Baubau 27,6 persen, Bombana 26,8 persen, Buton Utara 26,8 persen, Kolaka 26,5 persen, Konawe 26,2 persen, 26,0 persen, Kota Kendari 24,0 persen dan Kolaka Timur 23,0 persen.
“Harusnya daerah kepulauan ini rendah angka stunting-nya karena ketersediaan gizi cukup dari konsumsi ikan segar. Tetapi ini malah terbalik, justru Kabupaten Kolaka Timur yang tidak memiliki wilayah laut malah yang terendah angka stunting-nya,” Asmar memungkas.
Editor: Jamil
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post