Setelah digali, ternyata ada narasi yang besar di balik sulam jelujur itu. Motif-motifnya mengandung pesan filosofi atau kearifan yang luar biasa. Juga ada motif yang mengisahkan perjalanan transmigran dari Jawa ke Pesawaran, yaitu motif kapal dan jung, yaitu alat transportasi laut yang diperkirakan membawa transmigran dari Jawa ke Lampung, khususnya Pesawaran pada masa lalu.
Tiap motif memiliki makna atau filosofi. Misalnya, motif Bintang Pak mempunyai makna kita harus menjadi terang bagi orang yang ada di sekeliling kita. Bila ingin dihormati dan dimuliakan orang, maka hormatilah dan muliakan orang lain lebih dahulu.
Dengan visi jauh ke depan Bupati Dendi memutuskan untuk mengembangkan sulam jelujur menjadi salah satu kekhasan Pesawaran. Ia mendorong melakukan pembinaan dan pengembangan hingga diversifikasi produk dari kerajinan sulam jelujur itu melalui Dekranasda Kabupaten Pesawaran.
Pembinaan Intensif
Upaya mengembangkan sulam jelujur mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Pesawaran, Pemerintah Provinsi Lampung, dan Yayasan Cinta Tenun Indonesia (CTI) dengan memberikan pembinaan-pembinaan yang intensif.
Pemerintah Kabupaten Pesawaran menyediakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di Rumah Galeri Sulam Jelujur yang dapat digunakan oleh para pengrajin di Desa Sungai Langka, Kecamatan Gedong Tataan, yang jadi sentra sulam jelujur.
Tidak hanya memproduksi sulam jelujur, Pemerintah Kabupaten juga membuka pasarnya. Misalnya ikut pameran di tingkat nasional dan internasional. Lalu bagaimana sulam jelujur di Pesawaran sendiri?
“Saat ini saya mewajibkan hotel-hotel di Pesawaran untuk menggunakan sulam jelujur untuk home decoration, table runner, bed runner, true sofa, pouch bag, kotak tisu, dan lain-lain,” kata Bupati.
Puncaknya, wastra sulam jelujur hadir di pekan mode bergengsi dunia, yakni Pekan Mode New York tahun 2022.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post