Kendati tidak menokohkan orang tertentu, Endang kagum dengan sosok aktivis perempuan asal Sulawesi Selatan, Mubha Kahar Muang, seorang tokoh KNPI, politisi yang menjadi anggota DPR RI tiga periode (1987-1992,1992-1997 dan 1997-1998), sekaligus pengusaha.
“Jika Sulsel punya Mubha Kahar Muang. Kenapa tidak, ada Mubha Kahar Muang di Sultra,” kata Endang.
Keberaniannya menghadapi tantangan jualah yang mengantarkannya menduduki kursi sekretaris daerah provinsi. Saat proses seleksi dibuka, ia merasa memenuhi syarat. Ia maju. Bertarung. Dan berhasil.
Tanggungjawab dan mimpi menjadi yang terbaik merupakan panduan baginya ketika bekerja. Tipe yang out of the box. Apa yang tidak dilakukan orang lain, dia lakukan. Dan sukses.
Dia lantas punya citra sendiri di mata orang banyak. Misalnya ketika ada event tertentu, ketika ditanya siapa yang urus, dan jawabannya adalah Endang, semua bernapas lega. Pasti berhasil.
Dia bekerja sungguh-sungguh ketika diberi kepercayaan. Dia mengharamkan kerja yang setengah-setengah. Tipe yang begitu perfeksionis.
“Saya berusaha untuk tidak membuat pimpinan menjadi susah. Bahkan konsep surat saja, jika itu dicoret pimpinan, kepala saya sudah pening,” katanya.
Di tengah seabrek kesibukan disertai karier yang terus menanjak, Endang tetap menjaga dirinya dari perspesi kebanyakan masyarakat, yang memandang wanita karier dan single parent dengan stereotip yang buruk.
Setelah tunai janji pada almarhum suaminya, membesarkan dan menikahkan buah hati mereka, Endang akhirnya mengakhiri kesendiriannya. Ia menikah dengan seorang ASN bernama H. Trio Prasetio Prahasto S.Sos, M.A.P, yang kini menjabat sebagai Plt. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sultra.
Suami yang dinikahinya tahun 2011 itu menjadi pendamping sekaligus pendorong dirinya untuk terus maju dalam karier. Sang suami juga punya anak dari pernikahan sebelumnya. Keduanya bahu-membahu mengantarkan anak-anak mereka meraih kesuksesan.
Dinamika hidupnya sebagai wanita karier, birokrat, sebagai aktivis, sebagai perempuan, sebagai ibu, sebagai istri, diringkasnya dengan sebutan “perjuangan panjang yang tertatih dan berliku”.
Di penghujung kariernya sebagai seorang widyaiswara –yang juga merupakan catatan prestasi tersendiri– Endang membagikan semacam “tips dan trik” ber-ASN.
ASN tidak boleh terpolitisasi. Tidak boleh terpolarisasi. Bekerjalah dengan baik. Bersungguh-sungguh. Jangan diam berpangku tangan. Bekerja ikhlas dan tuntas. Jangan selalu mengharapkan imbalan.
Sigaplah menyesuaikan diri dengan tanda-tanda zaman. Kalau arah anginnya kemana, jangan melawan arus. Menyesuaikanlah. Ada pepatah, bukan yang kuat yang menang, tapi yang bisa beradaptasi. Namun ingat, jangan terjebak dalam situasi itu.
Terus mengupgrade pengetahuan, wawasan, kompetensi, dan skill. Bangunlah jejaring. Kedepankan hati dan rasa dalam bekerja. Itu membuatmu peka menjaga orang lain tidak tersinggung. Sekali hati seseorang sobek, susah untuk menjahitnya kembali.
Dalam berinteraksi, bukan hal mudah untuk menjaga perasaan seseorang tidak tersayat. Dengan landasan hati dan rasa, yang sobek itu tidak terlalu dalam sehingga bisa dirajut kembali.
Jika hati dan rasa menjadi landasannya, maka Anda bisa turun ke (lapis sosial) bawah, masuk ke tengah, ataupun naik ke atas.
Jangan pintar sendiri sebab akan banyak dijegal orang. Berusaha rangkul semua orang. Jadilah pendengar yang baik. Jadilah sumber yang mengademkan.
Wanita yang menduduki total 17 jabatan birokrasi pemerintahan (baik berstatus sementara maupun definitif) itu, masih menyimpan satu impian –menjadi seorang kepala daerah di kabupaten. Kendatipun sejumlah kalangan menyebut levelnya sudah tidak di situ.
“Saya ingin mengabdi dari sisi yang berbeda. Saya bismillah. Saya serius. Tapi saya seriusi dulu tanggung jawab saya sebagai pejabat fungsional. Menjadi instruktur handal, tangguh, dan memberikan inspirasi pengetahuan,” tutupnya.
Hari ini, 7 April 2022. Dr. Hj. Nur Endang Abbas, SE, M.Si merayakan ulang tahunnya yang ke-60. Memulai etape baru dalam kariernya. Pengharapan dan doa-doa terbaik untuk ibu. Sukses dan sehat selalu Mubha Kahar Muang-nya Sultra.(***)
Penulis: Kabid IKP–Dinas Kominfo Sultra
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post