Mengatasi kemacetan bisa dilakukan dua strategi, yakni push strategy mendorong masyarakat berkontribusi dalam penurunan kemacetan dengan mematuhi kebijakan yang ada. Serta pull strategy, untuk menarik masyarakat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih menggunakan kendaraan umum.
“Push strategy, manajemen ruang dan waktu akses kendaraan pribadi dan pull strategy penyediaan fasilitas angkutan perkotaan,” tutur Andriansyah.
Senior General Manager Jasa Marga Metropolitan Regional, Widiyatmiko Nursejati turut pula menambahkan. Ia menyebut bahwa kepadatan juga melanda ruas tol.
Terlepas hal itu, Jasa Marga telah memiliki 36 konsesi jalan tol yang mencakup 1.736 km dan mengoperasikan 1.264 km jalan tol.
Bisnis jalan tol Jasa Marga ini pun tersebar di seluruh Indonesia, di mana sebagian besar jalan tol sudah terhubung, menciptakan dampak positif pada konektivitas. Sebagian besar jalan tol tersebut pun terletak di Pulau Jawa.
Hal ini sesuai dengan volume lalu lintas harian terbesar yang juga terletak di wilayah Jabotabek dengan angka 2,50 juta kendaraan per hari atau 71 persen dari total lalu lintas harian di wilayah Jasa Marga Group.
Tol yang paling padat pun terletak di tol dalam kota dengan 543.535 kendaraan per hari.
“Ruas dalam kota memiliki total LHR tertinggi dengan 543 ribu kendaraan/hari, ruas Japek 448 ribu kendaraan/hari, dan Jagorawi 420 ribu kendaraan/hari,” jelas Widiyatmiko.
Upaya penanganan kepadatan ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya peningkatan kapasitas, optimasi teknologi, integrasi jaringan jalan tol dan antar moda, serta koordinasi lintas sektoral.
Berbeda pula, Ketua Presidium Indonesia Traffic Watch (ITW), Edison Siahaan menekankan bahwa lalu lintas merupakan urat nadi kehidupan.
Berdasarkan UU No 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan, tertulis bahwa lalu lintas dan angkutan jalan mempunyai peran strategis dalam mendukung pembangunan dan integrasi nasional sebagai bagian dari upaya memajukan kesejahteraan umum.
“Dalam kerangka ekonomi makro, lalu lintas dan angkutan jalan menjadi tulang punggung perekonomian baik di tingkat nasional, regional maupun lokal. Tidak hanya itu, lalu lintas juga disebut sebagai budaya dan potret modernitas serta urat nadi kehidupan sebuah bangsa,” ungkap Edison.
Dia pun menyoroti lalu lintas dan angkutan jalan, khususnya di sejumlah kota besar di Indonesia yang acap kali dilanda kesemrawutan, kemacetan dan kecelakaan.
Tak dapat dipungkiri beragam masalah lalu lintas menjadi momok bagi masyarakat pengguna jalan di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung.
Edison menjelaskan, kemacetan atau kesemrawutan ini memiliki beragam penyebab, di antaranya jumlah atau populasi kendaraan bermotor yang tidak terkendali, masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap ketertiban dan keselamatan sehingga tanpa merasa salah melakukan pelanggaran, kurang maksimalnya penegakan hukum yang bisa memberikan efek jera bagi pelanggar, serta faktor kondisi jalan yang kerap memicu kemacetan seperti penggalian yang waktunya cukup lama dan minus koordinasi dengan stakeholder lainnya.
Yang bisa dilakukan untuk mengatasi penyebab kemacetan tersebut pun beragam pula, yakni melakukan pembatasan ruang gerak kendaraan dengan berbagai kebijakan seperti ganjil genap, contraflow, 3:1 dan rekayasa-rekayasa lalu lintas.
Kemudian secara rutin menggelar tiga operasi setiap tahunnya yaitu Operasi Zebra, Simpatik dan Patuh.
“Ironisnya, ada rasa kebanggaan saat mengumumkan hasil operasi yang jumlah pelanggarnya terus meningkat. Padahal, semestinya ada evaluasi, mengapa kegiatan yang dilakukan secara rutin tetapi tidak atau kurang memberikan dampak yang signifikan untuk meningkatkan kesadaran tertib lalu lintas masyarakat,” ungkap Edison.
Acara diskusi ini didukung oleh BRI Insurance, Jasamarga Indonesia Highway Corp, Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Kementerian Perhubungan, PT Kalbe Farma, Entrasol dan Condro Kirono.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post