Kata Ali Mazi, bukan saja rawan bencana alam karena letak geografis serta faktor “Ring of Life” tetapi juga rawan bencana non alam. Ada bencana yang memiliki siklus tahunan 10 tahun, 100 tahunan, dan ribuan tahun. Sebagai contoh, gempa tsunami di Aceh, gempa dan tsunami di pantai barat Sumatera dan di Palu.
“Setiap daerah di tanah air pada dasarnya memiliki jenis dan tingkat ancaman bencana yang berbeda, karena itu setiap keluarga harus memahami potensi bencana ada di tempat tinggalnya. Setiap keluarga harus mendapatkan edukasi kebencanaan agar tercipta keluarga tangguh bencana sebagai pilar menghadapi bencana,” ungkap Ali Mazi.
Tingkat pemahaman keluarga terhadap potensi bencana yang ada di wilayah harus dibarengi kegiatan mitigasi, karena latihan-latihan evakuasi menjadi sangat penting. Pemahaman evakuasi baik meminimalisir jatuhnya korban. Dengan kata lain, kegagalan proses evakuasi karena kurangnya pemahaman adakalanya menjadi faktor utama jatuhnya korban dalam peristiwa bencana alam.
“Data kependudukan 2021 mencatat sekitar 86,5 juta kartu keluarga yang tersebar di seluruh pelosok. Latihan kesiapsiagaan bencana menjadi sesuatu yang rutin, sesuai kebutuhan keluarga di masing-masing daerah. Sehingga perlu ada kolaborasi dengan para pihak agar tercipta keluarga Indonesia tangguh dalam menghadapi bencana,” terang Ali Mazi mengakhiri sambutan Kepala BNPB.
Editor: Basisa
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post