“Tersebar di Wangi-wangi 8 hektar, Kaledupa 9 hektar, Tomia 13 hektar dengan memberdayakan kurang lebih 900 petani yang tergabung dalam 30 kelompok,” Tamrin menambahkan.
Namun, karena terkendala cuaca saat penanaman April dan Mei 2022 serta kekurangan bibit yang disediakan penyedia, Tamrin mengaku belum mencairkan sepersen pun anggaran program tersebut.
Adapun petani yang sudah melakukan penanaman di Pada Raya, Komala, Wungka, Kapota merupakan bibit yang disalurkan penyedia secara terbatas menggunakan anggaran pribadi.
Rencananya akan mencairkan anggaran tersebut melalui rekening masing-masing kelompok tani untuk pengadaan bibit yang rencananya akan ditanam pada Oktober dan November 2022 mendatang.
“Dengan adanya kenaikan harga bawang maka otomatis akan mempengaruhi volume bibit. Dari rencana 700 kg perhektar kemungkinan akan turun menjadi 400 perhektar,” kata Tamrin.
Tamrin juga menjelaskan, dengan kondisi lahan marginal di Wakatobi maka pola penanamannya bawang yang dilakukan petani tidak mesti langsung diatas lahan seluas 1 hektar. Akan tetapi kelompok tani bisa memanfaatkan beberapa lahan marjinal yang terpisah yang dikalkulasi luasannya 1 hektar.
“Saya sangat optimis sekali. Meskipun banyak yang bilang gagal, saya bilang panen boleh gagal tapi program harus sukses. Gagal panen boleh terjadi di beberapa ubinan tapi akan tertutupi di tempat lain karena bukan satu hektar yang akan kita tanam tapi rencana 30 hektar,” Tamrin memungkas.
Penulis: Deni La Ode Bono
Editor: Yeni Marinda
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post