Tindakan semacam didasarkan pada hadis dari Ummu Salamah disebutkan Rasulullah SAW. pernah bersabda, “Kelak akan ada penguasa lalu kalian melakukan amar makruf nahi mungkar. Siapa saja yang melakukan amar makruf maka dia telah bebas (dari bertanggung jawab di hadapan Allah). Siapa saja yang melakukan nahi mungkar maka dia akan selamat. Akan tetapi, siapa saja yang rida dan mengikutinya (maka dia tidak akan bebas dan tidak akan selamat).” (HR Muslim).
Rasulullah SAW juga telah menjadikan perkara yang benar di hadapan penguasa yang zalim sebagai jihad yang paling utama. Demikian pernyataan beliau ketika menjawab pertanyaan seorang sahabat yang bertanya, “Jihad apa yang paling agung?” Beliau menjawab, “Kalimat yang benar di hadapan penguasa yang zalim.” (HR Ibnu Majah dan an-Nasa’i).
Memang benar, bahwa dalam kondisi seperti ini, hukum-hukum yang disandarkan pada penguasa akan terbengkalai, kerusakan akan tersebar luas, kehinaan akan merajalela, dekadensi moral akan merata, berbagai interaksi rusak akan terus berlangsung, kemungkaran akan menjadi suatu kebiasaan dan tersebar luas, sementara segala perkara yang makruf akan tersembunyi dan berkurang.
Dalam kondisi semacam ini pula, umat Islam akan menjadi kaum yang lemah, wibawa mereka merosot, dan kekuatan mereka berkurang. Mereka akan menjadi singa yang tidak bertaring dan tidak berkuku. Mereka laksana gambar tanpa bukti. Bukankah gambar makanan tidak akan membuat kenyang dan gambar singa tidak akan membuat takut?
Dengan demikian, sulit mewujudkan kondisi yang sesuai harapan umat, jika masih banyak celah yang memicu tindakan tersebut. Karena itu, tidakkah umat ini rindu pada atura-Nya yang banyak membawa keberkahan? Sebab aturan terbaik untuk manusia, yakni yang menciptakan manusia, Allah SWT. Wallahu a’lam.(***)
Penulis adalah Freelance Writer Asal Konawe, Sulawesi Tenggara
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post