Arga Dara Ramadhani juga menjelaskan hal ini dilakukan untuk memperluas genre buku terbitan di Cabaca, sehingga ke depannya, pembaca bisa memiliki daftar bacaan lebih variatif terutama ketika bertandang ke Cabaca.
Tidak hanya itu, tim editor sendiri ingin membuka kesempatan atau peluang kepada penulis untuk bisa menerbitkan buku nonfiksi secara digital.
Referensi Buku Nonfiksi
Karenanya, pada tahun ini Cabaca mulai hadir dengan buku nonfiksi pertama yang diterbitkan secara eksklusif. Buku Content Writing Master karya Reffi Dhinar membedah lebih dalam mengenai dunia content writing yang tidak hanya sekadar menulis artikel untuk internet, yang penting untuk para penulis, pemasar, dan pebisnis online yang ingin membangun persona bisnis lebih kuat dan menarik.
Bahasa yang digunakan penulis ringan dan sangat spesifik membahas materi content writing dan penerapannya untuk kehidupan sehari hari. Background penulis yang memiliki pengalaman di kepenulisan ilmiah dan fiksi juga jadi salah satu keunikan hingga membuat materi dalam buku Content Writing Master sangat dekat dengan pembaca.
Selain itu, Cabaca juga mengeksplor buku nonfiksi lainnya dengan akan
diterbitkannya buku Enggak Ada yang Salah Denganmu yang akan dirilis pada bulan Agustus mendatang. Buku karya Astrid Savitri ini bergenre self-help atau self-improvement dan tema utama yang akan dibahas dalam buku ini berfokus pada perjalanan memahami cinta diri menuju penemuan diri sejati.
Buku Enggak Ada yang Salah Denganmu merupakan buku self improvement yang dikemas dengan cara berbeda. Ketimbang ‘menggurui’ seperti kebanyakan buku self improvement lain, di buku ini kita diperkenalkan dengan tokoh “Mentari” yang memiliki pengalaman yang relatable dengan kebanyakan pembaca.
Dari survei buku nonfiksi yang dilakukan oleh Cabaca, para responden pun memberikan judul buku yang terakhir mereka baca dan dapat dijadikan referensi. Seperti buku Empowered Me (Mother Empowers): Ibu Berdaya Dimulai dari Diri Sendiri karya Puty Puar.
Lalu ada buku Save the Cat! Writes a Novel karya Jessica Brody, Better Me karya Anna Silvia, Demokrasi untuk Indonesia – Pemikiran Politik Bung Hatta karya Zulfikri Suleman, Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? karya Kim Sang Hyun, lalu buku Jika Kita Tak Pernah Menjadi Apa-apa karya Alvi Syahrin, dan lainnya.
Fatimah Azzahrah, Co-Founder Cabaca turut menambahkan. Kata dia, tren buku nonfiksi di Indonesia memang masih didominasi terjemahan.
“Ini juga salah satu kegelisahan saya sejak lama. Padahal seharusnya ada banyak penulis Indonesia di luar sana yang punya ‘suara’ terhadap banyak persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak harus menjadi ahli dulu untuk menuliskan satu bidang, minimal punya keberanian untuk melakukan riset dan memberi satu sudut pandang yang berbeda,” ungkapnya.
Fatimah berharap makin banyak penulis Indonesia yang terwadahi dan bisa menyuarakan pendapat, pandangan, keahlian, dan pengalamannya ke dalam buku nonfiksi.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post