Oleh: Iman Handiman
Pada hari kelima perjalanan dari Yogyakarta menuju Bandung, telapak kaki penyintas stroke Komaruddin Rachmat pecah. Sedianya pada hari kelima perjalanan ia sudah menempuh jarak 20 kilometer, namun kakinya terhenti di kilometer 14,2 atau Desa Purwodeso, Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen Jawa Tengah, Rabu (9/8) sore.
“Telapak kaki saya pecah, sehingga betis dan paha sangat berat untuk melangkah,” kata Komar sesaat setelah Tim Medis mengobati telapak kakinya.
“Sakit kaki ini, tidak akan menyurutkan niat saya untuk terus melangkah dan berjalan kaki menuju Bandung,” tegas Bang Komar dengan tatapan mata penuh optimis.
Lalu dia menambahkan, ”Informasi yang saya terima, hampir di setiap RT pasti ada warganya yang terkena stroke. Bisa dibilang Indonesia sudah darurat stroke, perlu ada keseriusan dari para stakeholder, pemerintah dan civil society, untuk membuat langkah-langkah signifikan mencegah terus bertambahnya jumlah penderita stroke di Indonesia,” ucap Komar sambal melakukan pemanasan menjejak-jejakkan kakinya ke tanah.
“Apa yang saya lakukan saat ini (long march dari Yogyakarta menuju Bandung sejauh 403 kilometer) bukan untuk mencari popularitas, tapi dorongan kuat untuk berkontribusi dan kampanye Kesehatan terkait stroke,” kata Komar.
Aksi jalan kaki dari Yogyakarta menuju Bandung mulai dilakukan penyintas stroke ini pada Sabtu (5/2023). Start dari titik nol kilometer di depan Kantor Pos, Yogyakarta.
Di hari kesembilan dan ke-10 perjalanan kaki Komar terhenti dan tertahan di Banyumas.
“Sesuai saran dokter, kemarin dan hari ini saya belum bisa melanjutkan perjalanan. Harus istirahat setidaknya satu-dua hari untuk memulihkan telapak kaki. Alhamdulillah menurut dokter tidak ada peradangan, karena itu hanya diberikan salep dan obat penghilang rasa nyeri,” kata Komar yang tergolek lemas di Hotel Karanganyar Indah di Desa Karanganyar, Kabupaten Banyumas, Senin (14/8).
Setelah perawatan intensif dari tim dokter, kondisi telapak kaki Bang Komar berangsur pulih.
“Jari manis saya yang melembung. Alhamdulillah telah pecah dengan sendirinya, dan alhamdulillah tidak terasa apa-apa dan dampak tertentu. Terima kasih Pak Tugas Ratmono Ketua Umum Yastroki dan sahabat semua yang selalu memonitor perkembangan saya,” tambah Komar.
Setelah terhenti dan istirahat selama dua hari, Komar optimis besok (Selasa) sudah dapat melanjutkan perjalanannya kembali.
“Mudah-mudahan besok (hari Selasa) pagi, saya sudah memulai lagi perjalanan. Telapak kaki saya sudah mulai membaik tapi masih sakit bila dijejakkan,” aku Komar.
Masalah telapak kaki ini memang sepertinya tidak terantisipasi sebelumnya oleh Bang Komar maupun timnya. Penyintas stroke ini hanya fokus pada medical check up seperti tensi, jantung, dan lain-lain.
“Akibatnya banyak kesalahan terjadi dari mulai cara berjalan, waktu berjalan sampai tidak mengetahui harus menggunakan minyak komando (minyak kelapa dicampur bawang merah yang ditumbuk) untuk mencegah lecet, akibat ketidaktahuan itu maka terjadilah masalah di kaki, khususnya telapak kaki,” ucap Komar menjelaskan.
“Sungguh banyak hikmah dari perjalanan ini,” tutup Komar yang kemudian tertidur lelap.
Di hari ke-12, perjalanan kaki Komar sukses menembus sejauh 30 kilometer dari Desa Karanganyar, Kabupaten Banyumas dan tiba pukul 22.20 di Hotel Homira, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
“Alhamdulillah, setelah istirahat dua hari kemarin di Banyumas, hari ini saya berhasil menempuh perjalanan sejauh 30 kilometer dari Karanganyar hingga Majenang,” kata Komar sumringah di teras Hotel Homira, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (16/8).
Discussion about this post