“Hasil survei Unicef misalnya, ada 938 anak usia 7 hingga 18 tahun putus sekolah, dan 74 persen disebabkan tidak memiliki biaya, ini hasil survei Unicef terkait angka putus sekolah di Indonesia saat pandemi Covid-19. Ini masalah besar, cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa yang menjadi amanat konstitusi tidak benar-benar diperhatikan oleh negara, angka putus sekolah ini memberi bukti bahwa kebijakan pendidikan salah arah,” sambung dia.
Masih banyak lagi, masih kata dia, kebijakan kontroversi Mas Menteri yang sejak dilantik Presiden membuat kegaduhan di publik. Terakhir yang gaduh soal pembubaran Badan Nasional Standarisasi Pendidikan. Padahal amanat UU Sisdiknas secara tegas bahwa Badan Standarisasi harus mandiri, pembubaran BNSP dan diganti dengan lembaga lain langsung berada dibawah Mendikbud itu jelas bertentangan dengan UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Kebijakannya kontroversi, kebijakannya tidak berkeadilan, realitas pendidikan sudah berada diambang darurat, hampir dua tahun terjadi loss learning. Dikhawatirkan terjadi loss generation. Ketimpangan pendidikan semakin menganga, namun kebijakannya masih salah jauh dari solusi.
“Kami secara tegas memberikan rapor merah untuk Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim. Kami meminta di dua tahun kepemimpinan Jokowi-Ma’ruf, Presiden harus memilih menteri yang mengurusi pendidikan dengan orang tepat,” tutur alumni Fakultas Hukum Universitas Tadulako (Untad) itu.
Ketua P2G Satriawan Salim, menyoroti kebijakan menteri Nadiem yang belum pro terhadap guru honorer. Bagaimana mungkin pendidikan kita bisa maju, masih banyak guru kontrak yang gajinya dibawah Rp 1 juta perbulan, bahkan dalam keterangannya masih ada guru honor gajinya Rp 400-500 perbulan.
“Ini tidak sebanding. Dengan kekurangan 1.3 juta guru, kebijakan pro terhadap guru honor ini harus prioritas. Guru-guru ini sudah berpengalaman mengajar, harusnya gajinya bisa sesuai. Makanya, pemerintah harus menghadirkan upah layak minimum guru honorer untuk memastikan keadilan semua guru,” jelasnya.
Penulis: Basisa
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post