“Nah pertanyaannya, berani tidak, Capres-Cawapres menguatkan poros maritim dunia? Mampu tidak menggoyang dan mengontrol dunia?. Namun, calon presiden mana yang berani berjanji dan menggoyang dunia dengan masa depan ini?. Tentu, tidak sekedar gertakan. Tetapi butuh kekuatan diplomasi, pertahanan dan keamanan. Karena siap-siap menerima resiko embargo,” jelas Rusdianto.
Rusdianto blak-blakan menyampaikan bahwa seluruh negara di dunia ini pasti membutuhkan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi dunia yang mengusung JRM. Apalagi Tiongkok pasti bertekad tetap kolaborasi dan berkepentingan besar dengan Indonesia.
Indonesia, menurutnya, lebih kuat atas problem batas maritim yang telah tetapkan perairan ZEE di perbatasan Laut Cina Selatan sebagai perairan Laut Natuna Utara. Tiongkok tak bisa klaim batas maritimnya dengan Indonesia.
“Karena hukum laut internasional UNCLOS 1982 menyebutkan bahwa Tiongkok bukan negara kepulauan. Jadi, Tiongkok tidak bisa menarik garis batas maritimnya dengan Indonesia,” tegas Rusdianto.
Secara praktis, Capres-Cawapres, terutama pasangan AMIN (Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar) tahun 2024 mendatang, sebagai poros perubahan antitesa terhadap pemerintahan sekarang. Olehnya itu, pasangan AMIN harus deklarasikan JRM untuk menata sistem distribusi pangan dan logistik ikan nasional.
“Jangan jadikan gagasan maritim, hanya investasi infrastruktur dari Cina yang melahirkan hutang banyak itu. Evaluasi maritim saat Ini penting dilakukan oleh para Capres-Cawapres, terutama pasangan AMIN. Karena semata-mata Indonesia digadai saat ini. Akibatnya apa? Investasi China diberbagai kepulauan Indonesia merebak seperti jamur tumbuh di musim panas. Hal ini tak boleh lagi kedepannya,” pungkas Rusdianto Samawa, yang juga Caleg DPR-RI asal Partai Ummat Dapil NTB I Pulau Sumbawa.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post