PENASULTRAID, SINJAI – Jika alam adalah sebuah panggung sandiwara, maka Desa Panaikang sedang mementaskan lakon terbaiknya melalui Pantai Mallenreng. Tanah ini tidak sekadar diam di Dusun Bangko, Kecamatan Sinjai Timur, ia bernapas melalui deburan ombak dan berbicara melalui bisikan angin yang menyisir Teluk Bone.
Mallenreng, sebuah nama yang kini menjadi buah bibir, seolah-olah sosok jelita berkulit hitam manis, yang setia menanti siapa pun, untuk singgah dan melupakan sejenak bisingnya dunia.
Rabu siang, 31 Desember 2025, matahari sedang genit-genitnya memancarkan sinar. Namun, panas itu justru menjadi undangan bagi puluhan pasang kaki untuk mencumbui hamparan pasir hitam yang membentang luas.
Pasir Mallenreng memang unik. Ia tidak putih bak mutiara, melainkan hitam pekat yang berkilau saat dipeluk cahaya. Sebuah eksotisme yang warga lokal dijuluki sebagai Si Hitam Manis.
Pasir ini bagaikan permadani beludru yang menyambut langkah kaki para pengunjung, mulai dari jemari kecil anak-anak hingga langkah berat para orang tua.
Hanya butuh waktu sekitar 10 hingga 15 menit berkendara dari jantung kota Sinjai, atau menempuh jarak sekitar 7 kilometer, raga pengunjung sudah akan disambut oleh gerbang ketenangan.
Akses yang begitu mudah menjadikan Mallenreng menjadi popular, primadona yang terbuka bagi wisatawan lokal maupun pelancong lintas kabupaten.

Dialog Antara Darat dan Pulau Sembilan
Berdiri di bibir pantai ini adalah sebuah kemewahan visual. Laut biru membentang luas di hadapan mata, memamerkan gradasi warna yang seolah dilukis oleh tangan malaikat. Namun, yang membuat Mallenreng benar-benar istimewa ialah keberadaan Pulau Sembilan yang berjejer rapi di ufuk utara, seolah menjadi pagar betis yang menjaga ketenangan pantai ini.
Pulau-pulau itu tampak seperti barisan raksasa hijau yang sedang tertidur pulas di atas ranjang safir Teluk Bone.
Pemandangan inilah yang seringkali membuat kaki para pengunjung seakan kehilangan tenaga untuk beranjak pulang.
“Kami datang bersama keluarga hanya untuk menikmati cara alam berbicara,” ujar Salimah, salah satu pengunjung yang siang itu tampak asyik membiarkan kakinya tenggelam di antara pasir dan buih ombak.
Mallenreng baginya bukan sekadar tempat berlibur, melainkan ruang untuk merajut kembali kedekatan bersama keluarga di tengah pelukan alam yang ramah.
Mallenreng memang tidak pernah diskriminatif. Ia menyediakan lapangan datar yang luas bagi anak-anak untuk mengejar bayangan mereka sendiri, sementara bagi para pencinta petualangan, lautnya menawarkan rahasia bagi mereka yang ingin bersnorkel atau sekadar berenang tipis-tipis di pinggiran.

Perubahan Malam dan Cahaya yang Menawan
Jika siang hari Mallenreng merupakan sosok yang energetik, maka malam hari ia berubah menjadi seorang putri yang mengenakan gaun bertabur bintang. Cahaya lampu hias yang dipasang oleh pengelola mulai berpijar, memantul di atas permukaan air laut yang tenang, menciptakan suasana romantis yang memikat hati.
Di bawah naungan lampu-lampu itu, Mallenreng bersolek menawarkan kedamaian yang berbeda, sebuah simfoni sunyi yang hanya diinterupsi oleh nyanyian malam. Keindahan ini berkat sentuhan tangan manusia yang bijak.
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Panaikang, telah menyulap potensi alam ini menjadi destinasi yang sangat manusiawi. Langkah masuk ke area ini pun sangat terjangkau.
“Ini dikelola BUMDes, pembayarannya hanya Rp3.000 per orang,” kata salah satu pedagang yang kesehariannya menggantungkan harapan di bawah naungan pohon-pohon pesisir Mallenreng.
Bagi pengelola, menjaga Mallenreng adalah tentang menjaga martabat desa. Mereka menyediakan berbagai fasilitas yang memanjakan tubuh dan jiwa.

Discussion about this post