“Harus diperiksa, kalau perlu lakukan sidak ke pasar dan beberapa distributor yang ada di Koltim untuk memastikan tidak ada pihak yang bermain,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Hasrul mengungkapkan bahwa saat ini dirinya menerima banyak keluhan dari pelaku UMKM yang tidak dapat lagi berproduksi secara normal bahkan beberapa terancam gulung tikar.
Sementara itu pemilik usaha Al Aghis, UMKM asal Koltim yang memproduksi keripik ketela asal Lambandia mengaku, ia menggunakan minyak goreng hingga 60 liter per hari, jika harga minyak goreng masih 30.000 per liter, dirinya berencana stop produksi untuk sementara waktu.
Terpisah, Kepala Dinas Perindagkop Koltim, Muhammad Haris Silondae mengatakan, kelangkaan minyak goreng yang terjadi akhir-akhir ini diakibatkan adanya pembatasan yang berlaku secara Nasional.
“Kelangkaan minyak goreng ini memang berlaku secara Nasional, ada regulasi dari Menteri Perdagangan terkait minyak goreng,” ungkap Haris di ruang kerjanya, Rabu 2 Maret 2022 lalu.
Haris memastikan tidak ada penimbunan minyak goreng hingga terjadi kelangkaan. Sebab, ini berlaku menyeluruh. Sehingga, pihaknya telah mengatur jadwal untuk melakukan survey setiap Minggu dan melaporkan ke Kementerian Perdagangan RI dan juga di Dinas Perdagangan Sultra.
Penulis: Jamil
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post