Inilah watak kapitalis demokrasi, sampai kapanpun akan mencetak penguasa-penguasa yang haus akan kekuasaan yang tidak memperdulikan nasib rakyat. Padahal, penguasa harusnya menyediakan dan memberikan solusi terhadap problematika rakyatnya, bukan justru ikut menimbun bahan pokok dan memperkeruh keadaan.
Berbeda dengan Islam. Kekuasaan di dalam Islam benar-benar dijalankan sesuai dengan misi dan visinya, yakni meriayah urusan rakyat. Sebab, kekuasaan akan dimintai pertangungjawaban kelak di akhirat. Sabda Rasulullah, “Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. (HR. Abu Dawud).
Selain itu Rasulullah juga mengingatkan dalam hadis lainnya juga agar manusia tidak meminta dijadikan pemimpin atau meminta jabatan. Karena tanggung jawab seorang pemimpin di dunia dan akhirat sangat berat.
Abdurrahman bin Samurah berkata, Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Wahai Abdurrahman, janganlah kamu meminta jabatan, sebab jika kamu diberi jabatan karena permintaan maka tanggung jawabnya akan dibebankan kepadamu. Namun jika kamu diangkat tanpa permintaan, maka kamu akan diberi pertolongan.” (HR Muslim).
Oleh karena itu, para pemimpin dalam Islam menjalankan perannya dengan amanah. Kita bisa melihat dalam sejarah kejayaan Islam, bagaimana para pemimpin-pemimpin Islam meriayah urusan rakyatnya dengan baik. Tidak dibiarkan rakyat sengsara dan menderita, jika rakyat menderita maka mereka juga ikut menderita. Begitupun sebaliknya.
Prof Dr Ahmad Syalaby dalam buku Masyarakat Islam (1961) melukiskan persaudaraan dan kebersamaan yang terbina dalam kehidupan umat Islam di zaman Khalifah Al-Rasyidin. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, umat Islam di sekitar Madinah ditimpa bencana kelaparan yang telah menyebabkan wabah penyakit dan kematian.
Kelaparan dan penderitaan rakyat itu dirasakan oleh Umar sebagai penderitaan bagi dirinya. Karena itu, beliau bersumpah tidak akan mengecap daging dan minyak samin. ”Bagaimana saya dapat mementingkan keadaan rakyat, kalau saya sendiri tiada merasakan apa yang mereka derita,” begitu kata Khalifah Umar yang amat berkesan pada waktu itu.
Kali lain, Umar bin Khathab pernah berkata, ”Kalau negara makmur, biar saya yang terakhir menikmatinya, tapi kalau negara dalam kesulitan biar saya yang pertama kali merasakannya.” Sampai seorang sahabat pernah berkata, bila Allah tak segera mengakhiri bencana itu, maka Ali adalah orang pertama yang mati kelaparan.
Teladan kepemimpinan Umar bin Khathab ditemukan kembali pada sosok Umar bin Abdul Aziz, di masa pemerintahan Bani Umayyah tahun 717-720 M.
Istri Umar bin Abdul Aziz, ketika menjawab pertanyaan orang-orang yang datang bertakziah atas wafatnya pemimpin teladan ini, menceritakan, ”Demi Allah, perhatiannya kepada kepentingan rakyat lebih besar daripada perhatiannya kepada kepentingan dirinya sendiri. Dia telah serahkan raga dan jiwanya bagi kepentingan rakyat.”
Rasulullah bersabda, ”Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban (di hadapan Allah) tentang kepemimpinannya.” Maka, betapa tak terpujinya para pemimpin yang hanya berorientasi melanggengkan kekuasaan dan melupakan penderitaan rakyatnya. Wallahu A’alam Bisshawab.(***)
Penulis: Pegiat Literasi
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post