Menurut Muhlis, di setiap ajang kontestasi menjelang pemilihan kepala daerah, sering kali para kandidat menunjukkan dirinya sebagai low profile. Seolah-olah ingin menampakkan diri sebagai sosok yang baik agar dicintai banyak orang. Kata dia, untuk masalah tersebut diakuinya lebih tepat masuk pada pencitraan diri ketimbang sikap low profile yang sebenarnya.
“Saya tidak mengatakan pencitraan diri itu tidak baik, tetapi sering kali banyak orang yang hanya terlihat baik di waktu tertentu saja agar menarik simpati orang lain demi untuk memenuhi keinginannya. Terlepas dari niat apapun yang ada di dalamnya, kita hanya bisa berprasangka baik,” tukasnya.
Muhlis merasa terinspirasi dengan dua sosok pemimpin yang menyandang status low profile yakni Rasulullah SAW dan Mahatma Gandhi. Dua pemimpin ini memiliki banyak kelebihan tetapi tidak bersikap arogan dan mau berbaur dengan siapa saja.
Dimana, Rasulullah Muhammad SAW yang berperang tanpa membakar pepohonan, kebun, perempuan, dan anak-anak di tanah lawannya. Bahkan Nabi Muhammad juga pernah dihina oleh wanita yang buta saat sedang menyuapi wanita tersebut tetapi tetap tersenyum dan menyuapinya makanan setiap hari.
Lalu, Mahatma Gandhi yang melangsungkan perang tanpa adanya kekerasan dengan cara yang sederhana dan penuh kasih.
“Intinya, sikap low profile pemimpin dan calon pemimpin sangat dibutuhkan di saat dan kondisi apapun, sehingga bisa berkembang lebih baik,’ Muhlis memungkas.
Penulis : Supyan
Editor : Jamil
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post