Studi tersebut telah menggembirakan kalangan komunitas keilmuan mengingat bahwa dendrokronologi, atau metode penanggalan lingkaran pohon saat mereka terbentuk, kurang akurat dalam kaitannya dengan pohon yang lebih tua. Pasalnya, banyak pohon tua punya inti yang telah busuk.
Simbol Perlawanan
Pengukuhan itu lebih dari sekedar persaingan untuk masuk ke dalam buku rekor, karena Kakek Buyut adalah sumber dari informasi berharga.
“Ada banyak alasan lain yang memberikan nilai dan rasa pada pohon ini, dan kebutuhan untuk melindunginya,” kata Lara.
Saat ini hanya sedikit saja pohon berusia ribuan tahun yang ada di bumi.
“Pohon-pohon purba memiliki gen dan keistimewaan sejarah karena mereka adalah simbol perlawanan dan adaptasi. Mereka adalah atlet alam terbaik,” kata Barichivich.
“Mereka seperti buku yang terbuka dan kita adalah pembaca yang membaca setiap lingkarannya,” kata Carmen Gloria Rodriguez, asisten peneliti di laboratorium dendrokronologi dan perubahan global di Universitas Austral.
Setiap halamannya memperlihatkan musim kering dan hujan, tergantung dari lebar lingkaran pohon. Kebakaran dan gempa bumi juga ikut terekam di dalam tiap lingkaran, termasuk gempa terdahsyat dalam sejarah yang menimpa daerah itu pada 1960.
Kakek Buyut juga dipandang sebagai ‘mesin waktu’ yang menjadi jendela ke masa lalu.
“Jika pepohonan seperti ini lenyap, maka lenyaplah pula kunci penting tentang bagaimana kehidupan beradaptasi terhadap perubahan di planet kita,” kata Barichivich.
Sumber: voaindonesia
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post