“PON XX Papua 2021 bisa jadi bibit nasional, dari sini kita bisa melihat. Benar-benar harus bisa membinanya agar lebih berprestasi,” ujar dia.
Para atlet bahkan bisa menjadikan PON sebagai persiapan mengikuti kejuaraan lainnya dengan skala yang lebih tinggi. Olehnya itu, Shelly menyarankan kepada pemerintah agar ke depannya penyelenggaraan PON mengacu aturan internasional.
“Setiap atlet pasti tidak ingin hanya jago kandang saja. Pasti ingin berprestasi lebih, sampai Olimpiade. Karena itu aturannya harus jelas, harus mengacu pada aturan internasionalnya,” lanjut Shelly yang kini menjabat Board of Director AIBA (Asosiasi Tinju Amatir Internasional).
Anggota Exco ASBC (Konfederasi Tinju Amatir Asia) dan Ketua Komisi Tinju Wanita Asia ini juga memuji insiatif PWI Pusat yang membuka Media Center di Jakarta sebagai bentuk dukungan atas penyelenggaraan PON XX Papua 2021.
Langkah PWI, sambung dia, membuat liputan seputar PON Papua bisa lebih masif. Utamanya bagi wartawan-wartawan yang tak meliput langsung kegiatan PON di Papua.
Bahkan, pembentukan Media Center oleh PWI ini juga didukung Sportbloc, Lembaga Pengelola Dana dan Usaha Keolahragaan (LPDUK) Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat yang resmi dibuka Jumat 1 Oktober 2021.
Sportbloc sendiri, masih kata dia, seperti dikatakan CEO Ndang Mawardi, merupakan aplikasi sport aggregator yang mengolaborasikan berbagai start up yang terkait olahraga seperti rental venue se Indonesia, ticketing, sport industry berbasis UMKM keolahragaan termasuk alat-alat pertandingan, database atlet dan nonatlet, sport science, dan data event olahraga berbasis wisata.
Aplikasi Sportbloc nantinya bisa diunduh melalui PlayStore.
“Indonesia butuh data-data atlet dan calon atlet bahkan sampai ke tingkat daerah seperti Kabupaten. Jika itu nantinya bisa diperoleh melalui aplikasi Sportbloc, ini sesuatu yang luar biasa,” pungkas Shelly.
Editor: Basisa
Jangan lewatkan video terbaru:
Discussion about this post