“Memang kondisi sekolah kami sudah lama tidak direhab. Kami juga berharap DPRD dan Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Konsel untuk memberikan perhatian dengan mengalokasikan anggaran rehab dan moubiler untuk meja kursi belajar,” kata Martati.
Proses belajar mengajar di ruang kelas, katanya, baik itu pelajar SD maupun SMP terkadang terganggu dan harus meninggalkan RKB, jika angin kencang bertiup, termasuk bila hujan deras. Itu karena ditakutkan, atap dan gedungnya roboh, sehingga harus mencari tempat aman.
“Kalau jumlah siswanya di SD Negeri Lalonggasu ada seratusan lebih. Sementara untuk pelajar SMP Satap 3 Tinanggea sebanyak 60 an lebih ditopang dari tiga SDN di sekitar, yakni SD Lalonggasu, Palotawo dan Lalowatu,” Martati menambahkan.
Pantauan awak media ini, kondisi gedung SD Negeri Lalonggasu sudah sangat memprihatikan. Selain gedungnya yang sudah tua dan sejumlah fasilitasi di dalamnya rusak, SD Negeri Lalonggasu juga belum dipagar dan halaman sekolahnya sangat berdebu di musim hujan dan lumpur di musim hujan.
“Sekolah kami ini berada di poros Andoolo-Tinanggea, tetapi kondisi sekolahnya sangat memprihatinkan,” Martati memungkas.
Penulis: Pyan
Editor: Yeni Marinda
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post