“Padahal, dia belum S2 pun, tetap kami butuhkan. Karena kami cari praktisi, yang bisa mendidik para mahasiswa kami setelah lulus, kompeten untuk menjadi praktisi! Kehadiran Direktorat Jenderal Vokasi yang masih baru, perlahan-lahan sudah merubah hal tersebut, dan Pelita siap berkolaborasi!,” lanjut Akhwanul.
Ketiga, membuka kesempatan kerjasama internasional. Pekerja Migran Indonesia (PMI) selama ini dikenal cekatan. Pekerjaan dan gaji yang diperoleh juga cukup prestisius, di bidang-bidang seperti migas, konstruksi, teknik, bahkan kesehatan.
“Jadi harapannya kita juga akan bangun kolaborasi dengan mitra-mitra di luar negeri, menggarap pasar tenaga kerja luar negeri, dan menghadirkan Pelita serta Politeknik swasta yang bisa dirasakan manfaatnya oleh para anggota,” ujar Akhwanul.
Harapan Pelita melalui sarasehan sekaligus kiprah aktif Politeknik swasta, adalah kemampuan lulusan vokasi Indonesia untuk bersaing di kancah global. Dengan bonus demografi yang dihadapi pada tahun 2030, Politeknik swasta memiliki peran yang sangat penting untuk dimainkan. Mereka harus berupaya mencari sebanyak mungkin manfaat dan memberikan kontribusi yang signifikan.
“Impian Pelita, agar ketika seseorang datang ke Indonesia, studi banding atau kolaborasi kerjasama, tidak hanya cari kampus negeri. Mereka akan mencari Politeknik, karena kualitas kita unggul dan bisa memenuhi kebutuhan global!,” pungkas Akhwanul.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post