Sangat miris, tidak ada yang peduli dengan apa yang disajikan dari konten yang ditonton anak. Naluri bisnis lebih penting. Selama banyak yang minati maka akan terus diproduksi. Tidak penting moralitas dan hancurnya kepribadian dari remaja. Padahal para remaja adalah aset negara, sebab merekalah agen perubahan bagi kegemilangan negaranya.
Tapi bagaimana jika remajanya adalah generasi yang pada hancur dan rusak?. Jangankan untuk mikir bergerak saja untuk kebaikan mereka sudah tidak sanggup. Mereka tidak paham ilmunya dan tenggelam dalam arus liberalisme tanpa batas, sehingga menjadi pejuang sudah tidak penting.
Tantangan Globalisasi bagi Para Remaja
Berikutnya adalah gaya hidup. Lagi-lagi pengaruh globalisasi dan modernisasi memberi efek yang signifikan terhadap apa yang disebut baik atau buruk, berkelas dan tidak. Globalisasi bukan hanya berdampak pada perkembangan sains dan teknologi tapi juga membawa pengaruh pada pemahaman dan berefek pada kehidupan sosial budaya.
Jika mau disebut berkelas dan sosialita maka harus memiliki gaya hidup yang baik. Apa standarnya? yakni popularitas dan uang. Kemewahan dan kepopuleran itulah yang akan menarik banyak followers.
Maka di sosmed pun berseliweran gaya-gaya nyentrik yang dianggap modern, mulai dari fashion, busana, tas, sepatu, aksesoris yang serba mewah dengan harga yang fantastis, rumah, kendaraan yang serba elit, hingga pesta, dan liburan yang mewah. Semua ditampilkan secara vulgar dan tanpa batas, sehingga standar itulah yang kemudian banyak digunakan sebagai referensi kemajuan.
Bagi yang tidak berkecukupan secara materi maka bermain instan menjadi solusinya. Jangan heran jika banyak remaja yang pada akhirnya tergerus dan hanyut dalam arus kehidupan yang hedonisme dan materialisme. Menghalalkan segala cara demi meraih gaya hidup bak sosialita kelas atas, apapun dilakukan asalkan dapat meraih materi yang setinggi-tingginya.
Demi memuaskan gaya hidup maka dilakukanlah perbuatan-perbuatan bejat misal prostitusi online atau bahkan pengedar narkoba. Siapa yang dapat mencegahnya melakukan gaya hidup permisivisme seperti itu semisal prostitusi sedangkan itu adalah hasil dari kemauannya sendiri dan dianggap sebagai hak asasi atas diri dan tubuhnya.
Begitupun, teman pergaulan. Dalam sebuah teori yang dikemukakan oleh Edwin Sutherland yang disebut dengan teori asosiasi diferensial mengungkapkan bahwa melalui interaksi dengan orang lain, seseorang mempelajari nilai, sikap, teknik, dan motivasi perilaku kriminal.
Boleh jadi seorang remaja dari latar belakang keluarga yang harmonis tapi karena bergaul dengan teman atau lingkungan pertemanan yang buruk akhirnya menjadi buruk. Apalagi pada seorang remaja yang labil tentu keinginan mencoba sangat besar, maka boleh jadi kejahatan itu berasal dari lingkungan pertemanan.
Upaya Menyelamatkan Remaja, Butuh Dukungan Semua Pihak
Berangkat dari semua problem tadi yang paling mendasar adalah sistem yang dibangun sebab sistemlah yang menentukan corak kepribadian masyarakat yakni pola pikir dan pola sikap yang dibangun oleh masyarakat. Jika sistemnya adalah kapitalisme liberalisme maka jangan heran jika orientasi hidup hanya melulu pada pencapaian materi semata.
Itulah nilai tertingginya, tidak penting halal atau haram dalam mendapatkannya yang penting asas manfaat dan keinginan tercapai. Cara mendapatkannya pun bebas meski itu melanggar aturan agama. Sebab asasnya memang hanya berlandaskan akal dan undang-undang yang diterapkan.
Maka sikap hedonisme, materialisme dan permisivisme yang muncul dalam diri remaja adalah wajar. Perspektif hidup yang dibangun adalah kebebasan yang berlandaskan pada materi atau modal.
Lalu bagaimana mencegahnya? Jika berbicara solusi, ya tentu harus dirombak dan ganti sistem. Jika untuk mencegahnya secara individual maka harus ditanamkan ketakwaan individu, nasehat tentang dosa dan pahala serta konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan. Itu tidak boleh sekadar ceramah sesaat tapi harus rutin dan terus menerus karena manusia biasa lupa.
Harus ditanamkan sejak dini. Pembelajaran sejak dini apalagi masa golden age akan menjadikan seorang anak ingat hingga dewasa, dibandingkan ketika mendidik pada waktu mereka sudah remaja. Tentu tantangannya lebih besar, sebab anak telah bersentuhan dengan dunia luar.
Berikutnya, masyarakat harus peka terhadap kemaksiatan. Jangan hanya egosentris dan individualis. Istilahnya yang penting bukan keluarga saya yang lakukan, padahal boleh jadi anak atau saudara kita akhirnya ikut terjerumus jika tidak dicegah.
Inilah budaya amar ma’ruf nahi mungkar, yang namanya kejahatan harus dibicarakan dan dihentikan supaya tidak ada korban yang berjatuhan yang boleh jadi menghancurkan institusi masyarakat itu sendiri. Paling penting penerapan sistem oleh negara, dimana negara harus tegas pada pelaku kejahatan. Jangan buka peluang hanya karena hak asasi manusia.
Selanjutnya negara berfungsi sebagai pengurus dan penjaga rakyatnya; menjaga akal, kehormatan dan darah rakyat, dengan memberikan kesejahteraan, keamanan dan kenyamanan. Karena, rakyat adalah aset masa depan bangsa dan negara terutama lagi para remajanya. Wallahu a’lam.(***)
Penulis adalah Guru Swasta dari Kolaka, Sulawesi Tenggara
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post