Hamba saat itu barulah faham, rupanya tempat ini menjadi ruangan salat para “bangsawan” dan orang-orang kaya Arab. Dari pakaian, keharuman dan penampilan mereka, jelas sekali mereka kaum the have orang-orang Arab. Orang kaya raya. Ada juga beberapa orang Indonesia salat di situ.
Menurut istri hamba, kaum hawa yang salat di sana, mudah dikenali memakai barang-barang branded. Pakaiannya pun modis. Mereka juga di depan sesama perempuan memperlihatkan penampilan yang dibalut kemewahan. Rupanya inilah sebuah ruang salat yang bagi hamba sangat ekslusif. Dipenuhi jemaah yang wangi dan dikelilingi pemakaian barang mewah.
Dari pelbagai informasi yang hamba dapat, memang ruangan ini umumnya dipakai oleh kalangan kaya raya orang Arab. Tanpa mengurangi keabsahan syarat salat, kalangan ini sekaligus menikmati posisi sosial mereka. Meski begitu ada memang yang salat di situ karena tidak mampu salat berjemaah di bawah. Mereka memiliki keterbatasan fisik atau disabilitas. Kendati mereka juga umumnya termasuk kaum sangat berada.
Manakala waktu salat subuh tiba, benar saja, suara muazin dan imam dari mimbar masjid terdengar langsung di ruangan ini. Dengan begitu, kami melakukan gerakan salat yang sama dalam waktu yang sama, dengan para jemaah lain yang ada langsung di depan Kabah.
Hamba tak menyelisik lebih lanjut ikhwal tempat ini: kapan mulai ada, siapa saja yang biasa datang, dari orang kalangan mana dan atau bangsa mana aja. Juga hamba tidak menindaklanjuti lagi kenapa mereka memilih tempat ini. Perhatian dan fokus kepada ibadah haji, membuat hamba tak sempat menyelisik lebih lanjut, meski “naluri kewartawanan” hamba untuk itu tetap ada.
Mungkin saja mereka yang salat di sana memang sudah beberapa kali naik haji atau sebagai orang Arab mereka sudah biasa melihat dan salat langsung di depan Kabah, sehingga mereka memilih salat di sana, dan seterusnya dan seterusnya.
Beda dengan hamba ini. Kala itu baru pertama ke Makkah. Baru pertama naik haji. Jadi, salat di depan Kabah pun menjadi sesuatu yang luar biasa. Menakjubkan. Maka setelah merasakan dua hari kami salat di tempat khusus ini, hamba memutuskan untuk tetap salat berjemaah di dekat Kabah berbaur dengan jemaah lain.
Secara singkat Masjidil Haram adalah tempat yang istimewa bagi umat Islam, di dalamnya terdapat Kabah. Baitullah. Masjidil Haram juga menjadi masjid tertua di dunia yang menjadi arah kiblat semua umat muslim.
Dalam Alquran, Masjidil Haram disebut tidak kurang dari empat puluh kali. Sejak awal Masjidil Haram juga menjadi salah satu tempat mulia dan dihormati oleh seluruh umat Islam di dunia. Selain di dalamnya terdapat Kabah, juga ada makam Ibrahim, air zamzam, dan tempat lainnya.
Nabi Muhammad pernah berkata, rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia Baitullah ini.
Salat di Masjidil Haram dipercaya lebih utama sebanyak seratus kali daripada salat di Masjid Nawawi, apalagi dibanding masjid biasa. Sedangkan salat di Masjid Nawawi saja keutamaannya seribu kali lebih dibanding salat di masjid biasa.
Nah, hamba kan sudah jauh-jauh datang dari Indonesia ke Makkah, menyaksikan langsung Kabah, masak tidak mempergunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk selalu salat (subuh) dekat Kabah.
Bagi yang sudah terbiasa datang dan melihat Kabah mungkin memang dapatlah dimaklumi jika mereka memilih salat di ruangan khusus di hotel sebagian dari Masjidil Haram. Tapi bagi hamba, pilihan terbaik memang salat subuh dan lainnya di Masjidil Haram, di depan Kabah.
Kabarnya Hotel Inter Continental semula bakal dirubuhkan untuk perluasan Masjidil Haram. Belakangan rencana itu ditunda atau dibatalkan sehingga sampai sekarang hotel tersebut masih berdiri di tempatnya. T a b i k!.
(Bersambung….)
Penulis adalah wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah
(Tulisan ini merupakan reportase/opini pribadi yang tidak mewakili organisasi)
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post