Namun perlu disadari bahwa peningkatan permintaan sumberdaya tersebut selalu diikuti tekanan untuk melakukan eksploitasi yang semakin intensif. Maka nilai Maksimum Sustainable Yield (MSY) dan Effort Optimal (Fopt.) ikan tongkol di perairan Selat Makassar Sulawesi Selatan bahwa nilai lestari (MSY) ikan tongkol di Selat Makassar Sulawesi Selatan adalah 7.381,82 ton per tahun dengan penangkapan optimum (Fopt) 1.666.666,67 trip per tahun.
Sementara keberadaan populasi ikan Tuna sirip kuning (yellow fin) dan mata besar (big eye) di perairan Selat Makassar Sulawesi Selatan mengalami peningkatan cukup besar yakni 23.619 ton.
Menurut data KKP tahun 2022 bahwa nilai ekspor perikanan periode Januari-November 2022 sesuai data KKP 2022 mencapai USD5,71 miliar. Sementara nilai impor di periode yang sama hanya USD0,64 miliar. Adapun komoditas utama ekspor Indonesia meliputi udang dengan nilai USD1.997,49 juta, Tuna-Cakalang-Tongkol senilai USD865,73 juta, Cumi-Sotong-Gurita sebesar USD657,71 juta, Rumput Laut sebesar USD554,96 juta dan Rajungan-Kepiting sebesar USD450,55 juta.
Komoditas-komoditas ekspor tersebut, dikirim ke negara tujuan ekspor utama seperti Amerika Serikat senilai USD2,15 miliar (37,63 persen), Tiongkok USD1,02 miliar (17,90 persen), Jepang USD678,13 juta (11,89 persen), Asean USD651,66 juta (11,42 persen) serta 27 negara Uni Eropa senilai USD357,12 juta (6,26 persen).
Ditengah dinamika kondisi global seperti sangat berdampak pada ekspor perikanan Indonesia. Kendati demikian, pemerintah tetap menjaga pangsa pasar ke negara-negara tujuan ekspor utama dan menjajaki tujuan pasar prospektif di Timur Tengah.
Selain itu, pelaku usaha juga harus perhatikan kesepakatan dan persetujuan dagang antara Indonesia dengan beberapa negara Eropa seperti Islandia, Liechtenstein, Norwegia, dan Swiss yang tergabung dalam EFTA (European-Free Trade Association) melalui IE-CEPA (Indonesia European-Comprehensive Economic Partnership Agreement).
Kemudian Mozambique-Preferential Trade Agreement (IM-PTA) yang menyepakati penurunan tarif untuk Tuna Segar, Kepiting, dan Udang Beku serta Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) merupakan perundingan perdagangan bebas antara negara ASEAN (10 negara) dengan lima negara mitra, yaitu Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Australia, dan Selandia Baru.
Capaian nilai ekspor perikanan diperkirakan tumbuh 8,84 persen dengan nilai USD6,22 miliar hingga Desember 2022 dibanding akhir tahun 2021. Ekspor yang bergeliat ini juga berdampak positif terhadap minat investasi di sektor kelautan dan perikanan.
Realisasi investasi triwulan 3-2022 mencapai Rp6,39 triliun atau meningkat 45,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menyebar ke sejumlah daerah seperti di Jawa Timur, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan dan Jawa tengah.
Ishartini menambahkan, Republik Rakyat Tiongkok menjadi negara terbesar yang berinvestasi pada sektor Kelautan dan perikanan, disusul Singapura, British Virgin Islands, dan Jepang. Realisasi investasi akan menembus Rp7,78 triliun atau meningkat 29,71 persen dibanding tahun sebelumnya di bulan Desember 2022.
Harapannya, besarnya potensi penangkapan ikan tuna Sulawesi Selatan (Sulsel) harus seimbang dengan ekspor yang dibutuhkan negara tujuan utama. Tetapi, potensi itu tidak akan maksimal lakukan penangkapan ikan. Apabila infrastruktur modal, kapal, dan kebutuhan nelayan tidak terakomodasi. Maka tidak akan dapat dimanfaatkan sebagai tagline “Lumbung Raja Tuna”.(***)
Penulis merupakan Ketua Umum Front Nelayan Indonesia (FNI)
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post