“Indonesia’s Election Visit” akan dilaksanakan di Jakarta pada 12-15 Februari 2024, di mana para pemantau asing akan diajak mendatangi beberapa TPS di Jakarta, Jawa Barat dan Banten.
Sejauh ini dari 31 KPU negara sahabat yang diundang, sudah delapan KPU yang telah mengkonfirmasi kedatangan mereka. Sementara dari 45 kedutaan asing yang diajak, 17 diantaranya sudah menyampaikan kesediaan datang.
Dari kalangan kampus asing, ada satu kampus dari Amerika yang juga siap datang. Demikian pula tiga dari enam lembaga internasional, dan tujuh dari 14 LSM internasional bidang pemilu sudah menyatakan kesiapan mereka untuk datang ke Indonesia.
Afifuddin tidak merinci nama-nama KPU, lembaga internasional, kedutaan negara sahabat, kampus dan lembaga internasional yang disebutnya itu.
Pemantau Asing Kurang Antusias
Kahfi Adlan Hafidz di Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) menyayangkan kurangnya antusias lembaga asing untuk ikut memantau Pemilu 2024 ini. Padahal pemantau asing ini penting untuk bisa mengamplifikasi jika ada persoalan di dalam pemilu.
“Dengan banyaknya kondisi regresi demokrasi yang hari ini terjadi justru pemantau internasional dari banyak negara itu kalau kita melihatnya tidak terlalu antusias karena Indonesia ini bagi mereka dianggap sebagai negara yang sudah berhasil demokrasinya ketika berkaca pada Pemilu sebelumnya dimana penyelenggaran Pemilu kita termasuk salah satu yang terbaik setidaknya di level Asia.Jadi gara-gara itu mereka tidak terlalu antusias,” ungkap Kahfi.
Ia lebih jauh memaparkan banyaknya masalah yang membelit pemilu tahun ini, mulai dari politik dinasti, imparsialitas Mahkamah Konstitusi dan laporan kecurangan sejak masa kampanye. Kehadiran pemantau asing, tambahnya, akan memberi pesan kuat kepada seluruh peserta pemilu untuk bertarung dengan jujur karena dipantau luas dunia.
Sumber: voaindonesia
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post