Dari 1.465 unit rumah yang diperbaiki itu, 950 unit menggunakan APBD Kota Surabaya. Sedangkan yang non-APBD 380 unit berupa Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), 98 unit dari Baznas, 30 unit dari CSR, dan 7 unit dari gereja.
“Semuanya kami perbaiki dengan cara gotong royong. Mulai dari pengadaan material, tukang, sampai pengadaan dana,” papar Wali Kota yang meraih sejumlah penghargaan di antaranya Innovative Government Award (IGA) 2021, Kategori Kota Terinovatif dari Kemendagri Republik Indonesia.
Gotong royong, gotong royong, dan gotong royong. Kata ini berkali-kali diucapkannya dengan gaya arek yang tegas, dan blak-blakan, tapi tidak menyakitkan hati.
Tidak hanya diucapkan, budaya gotong royong yang merupakan warisan nenek moyang tersebut ia kembangkan sebagai kata kerja dalam berbagai programnya dalam memimpin masyarakat Surabaya yang majemuk. Hal ini “bertentangan” dengan jamak lumrahnya kota besar yang masyarakatnya cenderung individualistis.
Untuk mengikat nilai-nilai kegotong-royongan itu, dalam berkomunikasi dengan warganya, Cak Eri menggunakan bahasa Indonesia, campur Jawa (kromo dan ngoko) dengan gaya bahasa Suroboyoan.
Selain itu juga tidak melupakan nilai-nilai religiusitas. Dalam hal ini, para warga penerima manfaat, diajak berdoa, diantaranya dengan cara slametan atau kenduri bagi warga Jawa muslim. Saat penyerahan kunci, ketika dandan omah telah usai, ia selalu berpesan “Bapak, Ibu, rumah yang sudah didandani ini jangan dijual.”
Manfaat program dandan omah yang sudah dimulai Pemkot Surabaya sejak 2015, tidak hanya dirasakan bagi mereka yang rumahnya diperbaiki, tapi juga masyarakat hingga Pemkot Surabaya.
“Masyarakat yang menerima program dandan omah mendapat kualitas hunian bagus, kesehatan meningkat, dan taraf ekonomi naik karena rumah itu bisa menjadi tempat layak untuk usaha,” kata Cak Eri.
Masyarakat secara keseluruhan juga mendapatkan manfaat dari program tersebut. Program itu melestarikan gotong royong, meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat serta meningkatkan kesadaran pada kualitas hunian dan lingkungan.
“Pemkot Surabaya ikut mendapatkan manfaatnya pula dari program dandan omah. Program itu mengurangi kawasan kumuh. Pemkot bisa berkolaborasi dengan swasta, adanya penataan kota, dan pada gilirannya peningkatan kesejahteraan warga,” jelas Wali Kota Surabaya.
Seorang juri bertanya di mana tempat arsitektur lokal pada rumah-rumah rutilahu yang sudah menjadi layak huni?
“Yang utama bagi kami adalah membangun rumah yang kumuh jadi pantas di huni. Sedangkan soal arsitekturnya, itu ada dalam hati,” jawab Eri Cahyadi.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post