Hal tersebut di antaranya: Pertama, minimnya nilai edukasi yang diperoleh dalam lingkungan keluarga, khususnya orang tua. Apalagi jika orang tua yang hanya mengandalkan pendidikan anaknya dari sekolah. Sehingga tak sedikit pula hanya menghasilkan anak cerdas secara sains dan teknologi, namun minim nilai spiritual.
Kedua, lingkungan yang tak kondusif. Seperti adanya budaya acuh tak acuh di tengah-tengah masyarakat yang berujung minimnya kontrol masyarakat. Sehingga budaya amar makruf nahi mungkar kian terkikis. Ini tak lepas karena adanya paham individualisme yang tak sedikit telah bercokol dalam benak masyarakat saat ini. Belum lagi banyaknya media yang minim nilai edukasi, terlebih situs-situs porno begitu mudah diakses oleh orang dewasa hingga anak-anak.
Ketiga, adanya paham kebebasan. Paham kebebasan yang kebablasan seperti seks bebas yang tak jarang berujung pada kasus aborsi. Apalagi hal itu tak sedikit dilakukan atas nama hak asasi manusia (HAM) sehingga sulit dicegah.
Di sisi lain, minimnya ketakwaan individu pun dapat memicu banyaknya para remaja atau orang dewasa melakukan seks bebas. Sehingga hal itu tidak begitu dipermasalahkan dengan anggapan yang penting terjalin hubungan suka sama suka. Adapun urusan bertentangan atau tidak dengan norma agama seolah tak lagi jadi pertimbangan.
Lebih dari itu, sangat penting pula adanya peran negara dalam membantu peran orang tua dan masyarakat dalam memberikan pendidikan kepada generasi penerus bangsa. Tindakan itu seperti meniadakan media-media baik bacaan atau tontonan-tontonan yang minim nilai edukasi, apalagi situs-situs porno yang jelas-jelas dapat merusak otak dan mampu merangsang seseorang untuk berlaku maksiat.
Mengapa peran negara begitu penting? Karena negara memiliki kekuatan hukum untuk menindak tegas dan memberikan sanksi bagi mereka yang melanggar serta bertindak menyimpang dari norma hukum dan agama. Hukuman itu pun diharapkan dapat berefek jera bagi pelaku, sehingga orang lain yang berkeinginan serupa tidak ingin melakukan perbuatan tersebut.
Dari itu, seyogianya pada penghujung tahun, kita dapat mengintrospeksi diri atas perbuatan yang telah dilakukan sebelumnya dengan harapan dapat berubah menjadi lebih baik. Namun sayangnya, banyak yang menyalahgunakan hanya sekedar hura-hura dan jauh dari kata manfaat bahkan berbuat maksiat.
Dengan demikian, memang tidak mudah menciptakan situasi yang kondusif di tengah situasi yang serba bebas saat ini. Namun, semua itu tidak sukar jika peran orang tua, masyarakat dan negara saling bersinergi untuk menciptakan dan mendukung terciptanya hal-hal yang dapat mendatangkan nilai-nilai positif dengan kembali kepada aturan-Nya yang maha baik. Wallahu a’lam bi ash-shawab.(***)
Penulis: Freelance Writer
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post