“Sudah puluhan ribu perempuan dan anak-anak menjadi korban kebiadaban Israel, demikian pula tenaga pendidikan, tenaga kesehatan, tokoh agama dan sosial kemasyarakatan, dan para jurnalis,” kata Prof Valina.
Data Kementerian Kesehatan Palestina pada serangan hari ke-207 memperlihatkan 34.535 warga Palestina tewas, korban luka sebanyak 77.704 orang dan 73% di antaranya adalah anak-anak dan perempuan.
Jumlah korban terus berjatuhan dan semakin banyak keluarga kehilangan rumah, anak-anak kehilangan ayah dan ibu, orang tua kehilangan anak-anak, laki-laki kehilangan istri, dan perempuan kehilangan suami.
“Keadaan ini sungguh sangat memilukan hati. Namun tindak kekerasan dan kekejian Israel terus berlangsung. Bahkan Israel terus menjatuhkan bom di wilayah pengungsian yang mestinya menjadi wilayah aman,” ungkap Prof Valina.
Makanan dan air bersih sulit diperoleh sehingga kelaparan meluas. Namun pada pihak lain tanpa perikemanusiaan Israel justru menutup pintu-pintu rute distribusi bantuan pangan dan obat-obatan dari dunia internasional. Padahal bantuan ini sangat dibutuhkan warga sipil.
“Sungguh keji perbuatan Israel ini dan secara nyata telah melanggar ketentuan hukum internasional dan prinsip-prinsip universal mengenai hak asasi manusia. Israel, secara terencana dan sistematis melakukan genosida ingin memusnahkan bangsa Palestina,” sebut Prof Valina menegaskan.
Ironisnya, kata Valina, seruan dari dunia internasional agar Israel menghentikan serangan militernya pada Palestina tidak dihiraukan Israel.
Bahkan, negara-negara Barat seperti Amerika Serikat membiarkan agresi dan serangan militer Israel tersebut. Demikian pula Organisasi Konferensi Islam (OKI) tidak mampu memperlihatkan sikap tegas dan PBB juga tidak berdaya.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post