Oleh: Mariana, S.Sos
Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri penghidupan (Buya Hamka).
Itulah cinta, terkadang banyak yang tenggelam dan hanyut dalam romansanya tapi lupa akan makna yang terdalam dari hakikatnya. Banyak yang gusar dan menyalahkan cinta ketika sentuhannya menyakiti, padahal penderitaan yang ditimbulkannya adalah akibat luka yang disematkan oleh manusia, tapi pada akhirnya cinta lah yang selalu terluka.
Padahal cinta selalu melahirkan kelembutan membuat warna indah yang menyenangkan pada apapun yang dihinggapinya, melambungkan pengharapan, menguatkan dalam nestapa dan memberi kesejukan pada hati yang kejam sekalipun.
Keangungan dan kekuatan cinta telah dilemahkan oleh rayuan yang merendahkan maknanya, cokelat dan setangkai bunga bukanlah hakikat dari tulusnya cinta, melainkan ungkapan sesaat pada momen tertentu yang justru menghilangkan keagungan cinta. Hakikatnya jika mencintai maka belajarlah untuk berjuang, belajarlah untuk sabar dan belajarlah untuk ikhlas.
Cinta bukan tentang waktu, bukan tentang perayaan, bukan tentang momen, bukan tentang seremonial, bukan tentang ungkapan, bukan tentang simbol, bukan tentang rayuan dan pelukan, atau bahkan lebih dari itu.
Cinta itu jalan menuju perubahan yang benar, cinta itu perjuangan menuju keagungan dan kekuatan, cinta itu pengharapan yang tulus pada sesuatu yang memang layak untuk diharapkan, cinta itu tentang kemenangan sejati, cinta itu tentang kelembutan dan cinta itu romansa yang penuh arti hingga ketulusannya menggoncang singgasana langit puncaknya mengantarkan pada keindahan surgawi.
Cinta Tak Sekadar Cokelat Atau Suasana Romansa Bertabur Bunga
Ada sebuah momen dimana banyak para pemuda pemudi hanyut dalam suasana yang dianggap menyenangkan karena nuansanya bertabur cinta, diwarnai bunga merah yang indah, hadiah cokelat yang manis-manis legit dan berbagai hal yang romantis yang penuh dengan kasih sayang pada hari itu.
Hanya saja rangkaian cerita hari itu bukan hanya sekadar ungkapan cinta dan sayang pada teman atau orang yang dihormati seperti guru atau orang tua tapi momen ini justru banyak dimanfaatkan oleh mereka yang suka sama seseorang dan berusaha mengungkapkan perasaannya melalui pemberian cokelat dilengkapi pernak pernik bunga merah yang indah atau untaian kata-kata romantis hingga membuat baper bagi yang menerimanya.
Bahkan tidak jarang para pemuda pemudi yang kasmaran tenggelam dalam romansanya sehingga bergelut dalam kemaksiatan, berbuat zina untuk melampiaskan perasaan cintanya pada orang yang disukai, sangat memprihatinkan bahwa cinta yang agung harus dibalut dengan duka kemaksiatan akibat kebablasan dan salah mengartikan cinta.
Padahal cinta bukanlah tentang seberapa besar memiliki pasanganmu, pembuktiannya bukanlah dengan scanning tubuhnya tapi bagaimana menyadarkan orang yang dicintai untuk semakin baik dalam mengarungi hidup, semakin cerdas dalam berpikir dan semakin baik dalam bersikap dan tentu saja kebaikan di dunia dan akhirat.
Hal yang paling penting bahwa drama romansa hari kasih sayang yang dilakukan oleh bukan pasangan yang sah, justru akan menimbulkan dampak buruk pada kesehatan fisik dan mental sebab romantisme itu bersifat temporal, siapa yang jamin bahwa seseorang akan terus mencintai, apalagi cinta dan sayangnya ternyata menunggu momen, padahal yang namanya cinta itu tidak mengenal batas.
Cintailah orang yang kau cinta dengan sewajarnya, siapa tahu suatu hari dia akan jadi musuhmu; dan bencilah orang-orang yang engkau benci sewajarnya, siapa tahu suatu hari dia akan menjadi kecintaanmu (HR.Tirmidzi).
Seseorang yang mencintai harusnya melindungi bukan menjerumuskan, orang yang mencintai akan selalu memotivasi pada kebaikan bukan mengajak pada kemaksiatan, seseorang yang mencintai akan mengarahkan pada kebenaran bukan mengajak berzina.
Discussion about this post