Tantangan lainnya adalah mutu dan kualitas pendidikan tinggi Indonesia yang perlu ditingkatkan lebih baik. Jumlah perguruan tinggi di Indonesia mencapai lebih dari 4.500 kampus. Namun sayangnya masih banyak yang kualitasnya belum mumpuni. Misalnya gedung sarana prasarana belum lengkap, atau ketersediaan dosen dan buku untuk mahasiswa masih kurang.
“Padahal kampus berkualitas, adalah kunci untuk melahirkan anak-anak yang berkualitas pula. Saat ini ada sekitar 134 perguruan tinggi yang sementara tidak kita berikan izin baru atau moratorium sampai dengan melakukan perbaikan. Salah satu cara perbaikannya melalui pemanfaatan teknologi dan pendataan yang tepat,” ungkap Thobib.
Ketua FORPTI, Ubun Bunyamin turut pula menambahkan. Kata dia, terdapat tantangan berupa masih adanya operator kampus yang belum mengikuti perkembangan regulasi dan informasi terkait dunia pendidikan terkini. Ubun dan rekan sejawat bahkan merasa prihatin dengan kondisi tersebut.
FORPTI sebagai wadah untuk berkumpul dan berbagi ide dengan tujuan untuk dapat melakukan sharing informasi secara lebih cepat, terutama terkait data-data di perguruan tinggi, akhirnya muncul.
Di forum ini, operator yang belum tahu informasi terbaru seputar dunia pendidikan bisa memperoleh update. Sedangkan para operator yang sudah melakukan pengembangan kampusnya dengan baik, diberi apresiasi serta dijadikan best practice yang dapat ditularkan kepada kampus-kampus lainnya di seluruh Indonesia.
Saat pembukaan forum ini, turut diberikan penghargaan kepada enam perguruan tinggi dengan pelaporan EMIS tahun 2022-2023 terbaik. Mereka masing-masing: 1) STIT At Taqwa Ciparay Bandung; 2) Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) Darul Quran Bogor; 3) STAI La Tansa Mashiro Rangkas Bitung; 4) STAI daarut Tauhid Bandung; 5) STAI Darul Ulum Kandangan; 6) STAI 11 April Sumedang.
“Bersama enam kampus dengan pelaporan terbaik, dan ratusan operator yang hadir dalam forum ini, kami berharap operator terus update dan fokus menjadi tulang punggung kemajuan pendidikan,” pungkas Ubun Bunyamin.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post