Langkah tersebut di antaranya, mendorong kapasitas produksi tembaga Freeport agar sebagian bisa diolah di smelter yang akan dibangun di Papua.
Saat ini, kata Bahlil, kapasitas produksi tembaga Freeport mencapai 3 juta ton, dengan sekitar 1,3 juta ton digunakan untuk memenuhi kebutuhan pabrik eksisting di Papua. Sementara sisanya yang 1,7 juta ton masuk pabrik di Gresik.
“Kami akan meningkatkan kapasitas produksi Freeport copper (tembaga) dari 3 juta ton menjadi 3,8 juta ton atau lebih. Ini juga kami sudah komunikasi dengan Menteri ESDM. Lebihnya itu, ke depan akan kita rencanakan membangun smelter di Papua dan ini sudah menjadi bagian dari apa yang sudah kita programkan,” kata Bahlil menjelaskan.
Atas semua hal tersebut, pria yang digadang-gadang masuk bursa calon wakil presiden dari kawasan Indonesia bagian timur itu, meminta agar masyarakat Papua ikut mendukung segala rencana pemerintah. Sebab, kata Bahlil, sejak awal masuk jajaran kabinet Jokowi-Maruf Amin dirinya getol terus memperjuangkan pembangunan smelter di tanah Papua.
“In Sya Allah doakan agar secepatnya kapasitas produksi copper Freeport dari 3 juta kita tingkatkan jadi 3,8 juta atau menjadi 4 juta. Sisa itulah kemudian yang akan dibangun smelter-nya di Papua. Sejak saya masuk anggota kabinet saya sudah memperjuangkan ini agar salah satu smelter Freeport dibangun di Papua,” ujar alumni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura, Papua itu.
“Cuma satu saya mohon, kalau sudah ada kebijakan, mohon kita dukung baik-baik. Jangan belum lagi kita buat, sudah mulai kitorang punya cara-cara palang ini, palang ini. Kalau kita main begitu nanti investor susah masuk,” kata Menteri Bahlil memungkasi.
Editor: Irwan
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post