Kemenparekraf juga akan menyiapkan kunjungan bagi delegasi ke berbagai destinasi, salah satunya adalah Desa Wisata Jatiluwih yang terkenal dengan sistem subak. Subak sendiri merupakan organisasi tradisional yang mengatur sistem irigasi yang digunakan dalam cocok tanam padi di Bali. Jatiluwih ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 2012.
“Kami sebelumnya sudah melakukan peninjauan dan dipastikan seluruh kegiatan akan melibatkan pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali,” ujar Sandiaga.
Menparekraf Sandiaga memastikan keseluruhan pelaksanaan World Water Forum ke-10 di Bali akan sepenuhnya lekat dengan nilai-nilai budaya Indonesia khususnya Bali. Seperti pada upacara pembukaan, gala dinner, acara penutupan, akan diisi dengan ragam suguhan budaya dan kuliner khas.
“The sound, the taste, the smell, the feel, akan sepenuhnya memberikan kesan bagi para delegasi,” kata Sandiaga.
Pada akhirnya, World Water Forum ke-10 diharapkan memberikan multiplier effect yang besar bagi industri pariwisata dan ekonomi kreatif mulai dari hulu ke hilir yang akan mendorong pada terbukanya peluang usaha dan lapangan kerja baru yang berkualitas.
Sektor UMKM juga akan merasakan dampaknya seperti objek wisata, pemandu wisata, kuliner daerah setempat, kerajinan, serta cenderamata.
“World Water Forum ke-10 juga akan menjadi sarana promosi bagi pemerintah untuk dapat mencapai target-target pariwisata dan ekonomi kreatif di tahun 2024. Seperti jumlah kunjungan wisman antara 9,5 juta` hingga 14,3 juta,” kata Menparekraf Sandiaga.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post