Seyogianya kita patut menyadari jika gagasan KLA hanya sebuah fatamorgana dalam penyelesaian problem anak, sebab gagasan KLA hanya bersifat teknis, bagaimana mencapai beberapa kriteria yang ditentukan oleh pusat agar daerah-daerah mampu menjadi kota yang ramah terhadap anak, namun para penguasa seolah lupa akan kehidupan disekitar anak itu sendiri, dimana kehidupan dalam sistem kapitalisme yang syarat akan liberalisme, gaya hidup hedonis, kesenjangan sosial, dan lainnya merupakan faktor utama problem anak tersebut.
Hal ini juga sangat berpengaruh besar dalam pertumbuhan mereka dan menghindarkan mereka dari tindak kejahatan, serta menjamin hak-hak mereka.
Bagaimana mungkin anak bisa tumbuh dengan sehat dan terjamin hak-haknya, jika kebebasan dalam bergaul, kesenjangan sosial, beban hidup yang kian mencekik, serta gaya hidup hedonis masih mengiringi kehidupan mereka. Sebut saja, kesenjangan sosial yang kini kian nampak sering kali pemicu terjadinya bullying, dimana ada perbedaan yang jauh antara si kaya dan si miskin.
Selain itu, faktor ekonomi, dimana sulitnya mencari biaya hidup tak ayal kerap kali membuat anak menjadi korban kekerasan. Tak sampai disitu, adanya kebebasan dalam pergaulan antara laki-laki dan perempuan sering kali juga menjadi pemicu terjadinya tindak kejahatan terhadap anak.
Kemudian, adanya liberalisme dari berbagai sektor, semisal sektor media yang mengakibatkan mudahnya situs-situs penggugah hawa nafsu berseliweran dengan mudah, acap kali menjadikan anak sebagai korban pelampiasan dan masih banyak lagi faktor-faktor perlindungan hak anak yang tidak tersentuh oleh gagasan KLA.
Oleh karena itu, kita patut menyadari bahwa kita membutuhkan sebuah solusi jitu terhadap problem ini, bukan sekedar tong kosong tanpa bukti. Sebagaimana ide kapitalisme yang hanya menyibukkan penguasa dengan berbagai ilusi untuk menyelesaikan problem-problem rakyatnya dan terkenal gagal menjamin kemaslahatan rakyatnya dan yang ada justru menimbulkan berbagai masalah baru.
Solusi tersebut yakni ada pada Islam. Islam dengan pandangannya yang khas mampu memberikan solusi terhadap berbagai problem yang dihadapi manusia, sebab dia bukan hanya sekedar agama ritual semata, melainkan seperangkat aturan yang menjadi pengatur dalam seluruh kehidupan umat.
Islam memandang bahwa anak merupakan agen of change. Di pundak lah nasib masa depan negara dipertaruhkan, sehingga Islam menaruh perhatian besar terhadap tumbuh kembang mereka.
Salah satunya, Islam menjamin terpenuhi kebutuhan setiap individu masyarakat, sehingga keluarga terkhusus seorang ibu akan mampu mendampingi tumbuh kembang anak sesuai dengan syariat Islam. Anak pun tak harus menjadi korban akibat beban hidup yang kian berat, sebab semua kebutuhan sudah dijamin oleh negara.
Kemudian, negara juga menyediakan pendidikan dan kesehatan yang gratis bagi rakyatnya. Dengan pendidikan gratis dan berbasis akidah Islam, maka pendidikan akan mampu mencetak generasi-generasi yang cerdas, berkualitas, berpola pikir dan sikap Islami. Sebagaimana, tergambar pada masa Islam silam, generasi-generasi yang tangung yang mampu menjawab tantangan peradaban.
Selain itu juga negara senantiasa memfilter berbagai pemikiran Barat yang masuk ke dalam wilayah Daulah. Jika ada situs-situs dan berbagai budaya yang melenakan dan merusak pemikiran individu rakyat, maka negara dengan tegas menutup celah masuknya hal demikian.
Ditambah lagi, dengan tanggungjawab penguasa dalam Islam yang benar-benar meriayah rakyatnya, menerapkan sistem sanksi yang adil, melakukan kontrol sosial, senantiasa mendorong individu rakyat bertakwa kepada Allah, maka bisa dipastikan jika anak akan mendapatkan hak-haknya, serta mampu terlindungi dari berbagai tindak kejahatan seksual ataupun fisik. Wallahu A’alam Bisshawab.(***)
Penulis: Pemerhati Masalah Anak
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post