• Latest
  • Trending
  • All
  • #Headline
  • Advetorial
  • Kepulauan
  • Daratan

Kisah dan Nilai Perjuangan Oputa Yi Koo Bagi Peserta Didik

10 November 2025

DWP BPS Sinjai Dorong Penguatan Peran Perempuan

11 Desember 2025

Indosat Masuk ke Fortune 100 Best Companies to Work For

11 Desember 2025

PPJI Konsel Resmi Dilantik, Siap Dukung Peningkatan PAD 2025–2030

11 Desember 2025

Dari ‘Berharap’, Kirana Setio Mengurai Rasa yang Terpendam untuk Seseorang

11 Desember 2025

Wahdah Islamiyah se-Sultra Himpun Donasi Rp400 Juta Lebih untuk Bencana Sumatra

11 Desember 2025

Pelindo Petikemas Optimis Capai Target 2025

11 Desember 2025

Sinjai Tetapkan Hilirisasi Sebagai Kunci Utama Pengembangan Kopi

10 Desember 2025

Arom Dywarna Rilis Single Tentang Kisah Rindu-Dosa Dalam Perpisahan Dua Insan

10 Desember 2025

18 Pesantren se-Sultra Sepakat Perkuat Bisnis Peternakan

10 Desember 2025

Kunjungan Wisman Melonjak di Tengah Pelemahan Tingkat Hunian Hotel di Sulsel

10 Desember 2025

Baznas Kolaka Bakal Gelar Pelatihan Santri Preneur Bersama MUI-Wizstren Sultra

10 Desember 2025

Tim Pansus DPRD Muna Temukan Kejanggalan Serius di RSUD dr LM Baharuddin

10 Desember 2025
Kamis, 11 Desember 2025
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Profil
  • Redaksi
  • Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Hak Jawab
Penasultra.id
  • Home
  • Sulawesi Tenggara
    • MetroKendari
    • Daratan Sultra
      • Bombana
      • Kolaka
      • Koltim
      • Kolut
      • Konawe
      • Konsel
      • Konut
    • Sultra Kepulauan
      • Konkep
      • Baubau
      • Buton
      • Buteng
      • Butur
      • Busel
      • Mubar
      • Muna
      • Wakatobi
  • Gaya Hidup
    • PenaEntertain
    • PenaHealth
    • PenaKuliner
    • PenaOto
    • PenaTekno
    • PenaDestinasi
  • Style Pena
    • PodcastPena
    • FigurPena
    • LayarPena
    • LensaPena
    • PenaPembaca
  • News Room
    • PenaNusantara
    • PenaEkobis
    • PenaHukrim
    • PenaSport
    • PenaEdukasi
    • PenaPolitik
    • PenaCelebes
    • PenaMancanegara
  • Advetorial
  • Link Corner
    • Dewan Pers
    • Persatuan Wartawan Indonesia
    • Serikat Media Siber Indonesia
    • Siberindo.co
    • Dinamika Sultra
    • Trias Politika
    • Metrosultra.id
    • Bikasmedia.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Sulawesi Tenggara
    • MetroKendari
    • Daratan Sultra
      • Bombana
      • Kolaka
      • Koltim
      • Kolut
      • Konawe
      • Konsel
      • Konut
    • Sultra Kepulauan
      • Konkep
      • Baubau
      • Buton
      • Buteng
      • Butur
      • Busel
      • Mubar
      • Muna
      • Wakatobi
  • Gaya Hidup
    • PenaEntertain
    • PenaHealth
    • PenaKuliner
    • PenaOto
    • PenaTekno
    • PenaDestinasi
  • Style Pena
    • PodcastPena
    • FigurPena
    • LayarPena
    • LensaPena
    • PenaPembaca
  • News Room
    • PenaNusantara
    • PenaEkobis
    • PenaHukrim
    • PenaSport
    • PenaEdukasi
    • PenaPolitik
    • PenaCelebes
    • PenaMancanegara
  • Advetorial
  • Link Corner
    • Dewan Pers
    • Persatuan Wartawan Indonesia
    • Serikat Media Siber Indonesia
    • Siberindo.co
    • Dinamika Sultra
    • Trias Politika
    • Metrosultra.id
    • Bikasmedia.com
No Result
View All Result
Penasultra.id
No Result
View All Result
  • #Headline
  • PenaPembaca
  • PenaHealth
  • PenaKuliner
  • PenaOto
  • LayarPena
  • PenaSport
  • LensaPena
  • FigurPena
ADVERTISEMENT
Home #Headline

Kisah dan Nilai Perjuangan Oputa Yi Koo Bagi Peserta Didik

Redaksi Penasultra.id by Redaksi Penasultra.id
10 November 2025
in #Headline, PenaPembaca
A A
0

Oputa Yi Koo. Foto: Ist

16
SHARES
158
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsappTelegram
ADVERTISEMENT

Oleh: Zuumi Kudus

Menyoal tentang kejuangan secara sederhana dapat dipahami berkenaan dengan perihal berjuang, berhubungan dengan urusan berjuang. Sedangkan perjuangan ialah usaha yang penuh dengan kesukaran dan bahaya.

Secara eksplisit perilaku tersebut salah satunya dapat dijumpai pada sosok tokoh pejuang kemerdekaan yang telah lama ditulis dan dipelajari pada buku-buku sejarah di semua jenjang satuan pendidikan serta diberi label Pahlawan Nasional.

Kita pernah diajarkan tentang bagaimana heroiknya Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Imam Bonjol, Pangeran Pattimura, Sultan Hasanuddin dalam menentang imperialisme dan kolonialisme Belanda serta masih banyak lagi.

Secara emosional Provinsi Sulawesi Tenggara dalam konteks ini memiliki banyak potensi tokoh untuk terus digali menjadi kandidat Pahlawan Nasional. Ada 2 orang tokoh penting Sulawesi Tenggara yang telah dijadikan sebagai Pahlawan Nasional.

Pertama bapak Moehammad Jasin, lahir di Baubau, 9 Juni 1920 dan beliau (Komjen Pol. (Purn) DR. H. M. Jasin wafat pada Kamis, 3 Mei 2012). Tindakan monumental yang pernah dilakukan Moehammad Jasin adalah saat ia memproklamasikan perubahan Polisi Istimewa menjadi Polisi Indonesia.

Untuk mengenang jasa-jasanya, Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden No. 116/TK/Tahun 2015, 5 November 2015, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Kedua adalah Oputa Yi Koo atau Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Gelar/Nama Sultan) Sultan Buton ke-20 dan ke-23.

Berdasarkan hasil penelitian atas jasanya dalam melawan imperialisme Belanda di Kesultanan Buton dianugerahi Pahlawan Nasional yang dituangkan dalam Surat Keputusan Presiden (Kepres) Nomor:120/TK/2019 dan diserahkan oleh bapak Presiden Joko Widodo kepada salah satu rumpun ahli warisnya (H. Ali Mazi, S.H) tanggal 7 November 2019 di Istana Negara Jakarta.

Keberadaan sosok Oputa Yi Koo yang memulai perjuangannya 272 tahun lalu (1751 M) menjadi penting untuk dipelajari oleh generasi kekinian baik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah maupun perguruan tinggi.

Semangat dan nilai-nilai kejuangan beliau memiliki persamaan spirit dengan Pancasila dan UUD 1945 baik yang bersifat nilai-nilai dasar maupun nilai operasional.

Jika dilihat dari angka tahun jejak Pangeran Diponegoro (lahir 11 November 1785) dan memulai pemberontakan tahun 1882 maka 34 tahun sebelum lahirnya Bendoro Raden Mas Ontowiryo (nama kecil Pangeran Diponegoro), Oputa Yi Koo telah melakukan perlawanan bersenjata terhadap imperialisme Belanda di area Kesultanan Buton.

Fenomena ini penting untuk dipelajari oleh peserta didik di semua jenjang untuk mengambil hikmah serta spirit perjuangannya untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dan patriotisme dalam melanggengkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selayang Pandang Oputa Yi Koo

Beliau lahir di Wolio (Keraton Buton/ibukota Kesultanan Buton) di awal abad 18. Ayahnya bernama La Umati (Sultan Buton ke-13) bergelar Sultan Liyauddin Ismail dimana sebelumnya dikenal sebagai Kapitaraja yang gagah berani.

Nama aslinya “La Karambau” oleh karena perawakannya berwatak keras, bertubuh besar, tinggi kekar dan merupakan anak ke-3 dari 12 bersaudara. Semenjak kecil dibekali dengan ilmu agama, pemerintahan dan beladiri. Dalam proses pertumbuhannya telah menampakkan jiwa kepemimpinan di mana senantiasa menjadi panutan dan pemimpin dari teman-teman sebayanya.

Dari pantauan kalangan “Siolimbona” (Dewan Perwakilan Rakyat Kesultanan Buton) telah diprediksi bahwa anak ini akan menjadi pemimpin besar dimasa mendatang. Disaat dewasa La Karambau mempersunting putri Sultan Sakiuddin Darul Alam (Sultan Buton ke-19). Dari pernikahannya dikaruniai 3 orang putra yaitu Kapitalau Lawele, La Ode Harikiama, La Ode Pepago dan seorang putri bernama Wa Ode Wakato.

Tahun 1751 La Karambau dicalonkan oleh Kaomu Tanayilandu (Salah satu Fraksi dari 3 Fraksi di Siolimbona yaitu Kumbewaha, Tanayilandu dan Tapi-Tapi) dalam bursa pemilihan Sultan Buton ke-20. Beliau terpilih sebagai Sultan Buton ke-20 dengan gelar Himayatuddin Muhammad Saidi Ibnu Sulthaani Liyasudiya Ismail.

Perjuangan Oputa Yi Koo

1. Sebab Perlawanan

Pemicu bangkitnya pergerakan melawan imperialisme Belanda di jazirah Kesultanan Buton oleh Oputa Yi Koo antara lain disebabkan oleh adanya 3 kebijakan dari kompeni Belanda tentang pemberlakuan “Hongitochten” yang diperjanjikan dengan Belanda tanggal 25 Juni 1667.

Secara umum isi perjanjian tersebut meliputi:
a. Kewajiban untuk memusnahkan seluruh tanaman pala dan cengkeh di wilayah kesultanan Buton baik sudah menghasilkan maupun yang baru ditanam
b. Kewajiban mengirim upeti berupa bahan makanan kepada Belanda
c. Pergantian Sultan harus diketahui oleh Belanda
d. Perjanjian tahun 1667 adalah menghianati perjanjian tahun 1613 yang menempatkan Buton dan Kompeni pada level yang sama dan setara sebagai sesama negara merdeka dan berdaulat.

Perjanjian yang terkesan dipaksakan ini secara ekonomi maupun secara politik sangat merugikan kesultanan Buton. Dalam aspek ekonomi bahwa pemusnahan seluruh tanaman pala dan cengkeh sebagai salah satu komoditi unggulan sangat mempengaruhi merosotnya pendapatan petani bahkan melahirkan pengangguran yang secara langsung mempengaruhi stabilitas ekonomi kesultanan.

Sebagai masyarakat maritim tentunya akan mempengaruhi pula proses perdagangan antar pulau. Pelayar-pelayar Buton yang menggunakan jasa ekspor komoditi cengkeh dan pala di pulau Jawa seperti Surabaya dan Batavia (Jakarta) seketika sepi muatan.

Hal ini diperparah lagi adanya kewajiban Kesultanan Buton memberi upeti kepada Belanda ditengah merosotnya ekonomi negara. Diktum pergantian Sultan Buton harus diketahui Belanda menempatkannya dalam tekanan hegemoni politik kekuasaan Belanda.

Buton tidak lagi berada pada prinsip kesetaraan yang memiliki kedudukan sama sebagai dua negara berdaulat dan saling menghormati. Inilah yang menyulut kemarahan La Karambau mengibarkan genderang perang dikala itu dan mengabaikan perjanjian Buton – Belanda tanggal 5 Januari 1613 dan perjanjian 25 Juni 1667.

2. Kisah Perlawanan

Bulan Juni 1752 kapal Rust en Werk yang berlabuh di Kotamara ditagih syahbandar kesultanan untuk membayar pajak pelabuhan. Kapten Kapal Rust en Werk bersikeras tidak membayar pajak pelabuhan.

Peristiwa ini dilaporkan ke Panglima La Sungkuabose dan beliau mendukung untuk tetap menarik pajak pelabuhan. Keadaan ini diadukan kepada Sultan Buton Himayatuddin Muhammad Saidi dan akhirnya meletuslah tragedi penghancuran kapal Rust en Werk.

Seorang pembelot berkebangsaan Belanda bernama Fransz Fransz berkoalisi dengan pasukan Sultan Himayatuddin turut membantu menyerang dan menenggelamkan kapal tersebut. Membunuh seluruh awak terkecuali anak-anak dan perempuan ditawan di istana Sultan Himayatuddin.

Frans-Frans melarikan diri ke Kabaena beserta pasukannya serta membawa sejumlah harta rampasan. Mengetahui peristiwa ini diawal tahun 1753 Belanda mengutus Onderkoopman Johann Banelius didampingi oleh Banelius, Komandan Artileri Jan Baptiste de Morquit, dan Letnan Laut Laurens Heutepen.

Bertolak dari Makassar dengan membawa sejumlah tentara menumpang kapal Kaaskoper dan Carolina untuk menuntut Sultan Buton membayar kerugian atas peristiwa kapal Rust en Werk dan menangkap Fransz Fransz beserta pasukannya.

Walaupun pertempuran di Kabaena menewaskan Fransz Fransz namun pihak Buton tidak sepenuhnya memenuhi keinginan Belanda dan bahkan membebani Belanda karena permintaan budak dipenuhi dengan mengirimkan lansia serta anak-anak yang tidak ada manfaatnya.

Kapten Johan Camper Rijsweber diperintahkan sebagai Komando Pasukan Tertinggi tiba di Bontain pada tanggal 31 Januari 1755 dengan kapal pemburu “Adriana” dari Makassar didampingi kapal Samalag, Ouwerkerk dan kapal-kapal perang kecil disebut Chaloepoen masing-masing de Moer min, het Portuin, dan de Arnoldina diberangkatkan untuk menyerang
Buton.

Rijsweber meninggalkan Bulukumba tanggal 19 Februari 1755 menuju Buton dengan membawa tambahan armada yaitu Huis te Henpat, de Paari, Oliagis, dan Triston. Tercatat keseluruhan armada perang Belanda tiba di Buton tanggal 23 Februari 1755 pukul 16.00 dan selanjutnya melepaskan tembakan penghormatan namun tidak dibalas oleh pasukan Kesultanan Buton.

Baca Juga

BPS Sinjai Peringati Hari Pahlawan, Jaga Semangat Perjuangan

Gubernur Sultra Pimpin Upacara Peringatan Hari Pahlawan di TMP Watubangga

Kado Hari Pahlawan, Atlet Baubau Cetak Prestasi di Sejumlah Kejurnas 2025

Perwira Kopassus Jadi Irup Hari Pahlawan di Kabupaten Pinrang

Belanda menerima informasi bahwa kedatangannya telah diketahui Buton dan telah memasang pagar runcing dari pesisir hingga perbukitan dengan kekuatan pasukan lebih dari 5000 orang. Buton mengutus beberapa Juru Bahasa dan naik di atas kapal Huis te Hanpad menanyakan maksud kedatangan mereka.

Rijsweber memberi jawaban untuk singgah mengambil air minum dan kebutuhan lainnya dan melanjutkan perjalanan ke Maluku. Sekembalinya utusan Buton, Rijswebwer naik ke darat mengenakan pakaian Matros Kapal menyelidiki kekuatan Buton dan benar banyak pasukan namun tidak memiliki persenjataan yang luar biasa.

Rijsweber memerintahkan pendaratan pasukan pada pukul 00.00 dan pukul 05.30 seluruh pasukan Belanda dalam posisi bergerak menyerang menuju Benteng Keraton Buton. Pasukan Belanda dibagi dua arah yaitu arah Lawana Lanto dan Lawana Wandailolo (pintu/nama pintu masuk benteng) serta arah Lawana Labunta.

Penjaga pintu benteng dibuka pada pukul 06.00 dan seketika itu pula pasukan Rijsweber menerobos masuk sembari melepaskan tembakan ke segala arah sasaran. Pertempuran sengit tidak dapat terelakan lagi.

Himayatuddin memimpin langsung pasukan didampingi Panglima Perang Kapitalau La Sangkuabuso, Bonto Ogena dan Sapati. Dengan semangat Jihad Fiy Sabilillah dan pekikkan Allahu Akbar, Himayatuddin semakin membakar semangat pasukan Buton melawan gempuran Belanda. Sultan Sakiyuddin yang menggantikan Himayatuddin turut pula bertempur dan mempertahankan istananya.

Untuk memecah konsentrasi pasukan Belanda maka Lakina Sorawolio menyerang kapal-kapal Belanda yang berlabuh. Baik Laskar Buton maupun Belanda saling berguguran. Melihat persenjataan yang tidak berimbang, Himayatuddin meminta Sultan Sakiyuddin beserta keluarganya mengundurkan diri ke Benteng Sorawolio (benteng yang berada diseberang lembah Benteng Keraton- arah Timur).

Page 1 of 2
12Next
Tags: BPMP SultraButonButon vc BelandaGunung SiontapinaHari PahlawanKesultanan ButonLa KarambauOputa Yi KooPahlawanPahlawan ButonSultan ButonSultan Himayatuddin Muhammad SaidiZuumi Kudus
Share6Tweet4SendShare
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Hak cipta dilindungi Undang-undang.

Pasang Iklan Penasultra

Ikuti Kami :

ADVERTISEMENT
Previous Post

Unit Ska, ORGIE Rilis Single ‘Tak Mengerti’ di Momen HUT ke-3

Next Post

Mahasiswa Profesi Apoteker UHO Edukasi Lansia Padaleu tentang Hipertensi

RelatedPosts

Wahdah Islamiyah se-Sultra Himpun Donasi Rp400 Juta Lebih untuk Bencana Sumatra

11 Desember 2025

Pemprov Sultra Dukung Kendari Tuan Rumah UCLG ASPAC Executive Bureau Meeting 2026

9 Desember 2025

Aturan Baru Diresmikan, Lomba AJP 2025 Tawarkan Hadiah Ratusan Juta

8 Desember 2025

Hak Partai vs Hak Publik: “Menelaah Legitimasi Pergantian Ketua DPRD”

6 Desember 2025

Di Bawah Kepemimpinan Bahlil Lahadalia, Partai Golkar Ukir Sejarah Internasional

1 Desember 2025

Benarkah Lahan Kambu Bisa Dibangun? Mengurai Status APL dan Aturan Mangrove

30 November 2025
Load More
Next Post

Mahasiswa Profesi Apoteker UHO Edukasi Lansia Padaleu tentang Hipertensi

Discussion about this post


Recommended Articles

Tunggakan Pajak PT VDNI Sampai Rp 27 Miliar, Ini Kata AJP

8 Oktober 2021

PAFI Muna Berikan Vitamin Gratis ke Ratusan Warga Desa Labone

12 Februari 2023

Kemendagri-UNICEF Advokasi Percepatan Penyelenggaraan KKS

8 November 2024

PT VDNIP Beri Dampak Positif Bagi Masyarakat di Kapoiala

18 Juni 2023

Maluku Utara Belajar Pengelolaan Tambang di Sulawesi Tenggara

12 April 2022
Load More

Populer Minggu Ini

  • Usai Tersangkakan Mantan Sekda, Jaksa Bidik Lagi Eks Pj Bupati Mubar

    208 shares
    Share 83 Tweet 52
  • Mantan Sekda Mubar Jadi Tersangka Kasus Korupsi Belanja Barang-Jasa

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Tim Pansus DPRD Muna Temukan Kejanggalan Serius di RSUD dr LM Baharuddin

    70 shares
    Share 28 Tweet 18
  • Hak Partai vs Hak Publik: “Menelaah Legitimasi Pergantian Ketua DPRD”

    28 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Ini Tiga Fokus Utama Pansus DPRD Muna di RSUD dr. LM Baharuddin

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
logo penasultra

penasultra.id
PT Pena Sultra Grup
(Penerbit/Pengelola Penasultra.id)
NPWP: 93.591.690.8-811.000

Kontak »

Advetorial

Peluh Prajurit TMMD 125 Jadi Harapan Baru Warga Nekudu Konawe

Evaluasi Pilkada 2024, Cara KPU Sultra Siapkan Strategi Pemilu Lebih Berkualitas

KPU Sultra Resmi Tetapkan Pasangan Gubernur-Wakil Gubernur Terpilih 2025-2030

Link Corner

  • Dewan Pers
  • Persatuan Wartawan Indonesia
  • Serikat Media Siber Indonesia
  • Siberindo.co
  • Dinamikasultra.com
  • Triaspolitika.id
  • Metrosultra.id
  • Bikasmedia.com

  • Profil
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Hak Jawab
  • Kontak
  • Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak

Copyright © 2023 Penasultra.id, Made with ❤️

error: Maaf tidak bisa.!!
No Result
View All Result
  • Home
  • Sulawesi Tenggara
    • MetroKendari
    • Daratan Sultra
      • Bombana
      • Kolaka
      • Koltim
      • Kolut
      • Konawe
      • Konsel
      • Konut
    • Sultra Kepulauan
      • Konkep
      • Baubau
      • Buton
      • Buteng
      • Butur
      • Busel
      • Mubar
      • Muna
      • Wakatobi
  • Gaya Hidup
    • PenaEntertain
    • PenaHealth
    • PenaKuliner
    • PenaOto
    • PenaTekno
    • PenaDestinasi
  • Style Pena
    • PodcastPena
    • FigurPena
    • LayarPena
    • LensaPena
    • PenaPembaca
  • News Room
    • PenaNusantara
    • PenaEkobis
    • PenaHukrim
    • PenaSport
    • PenaEdukasi
    • PenaPolitik
    • PenaCelebes
    • PenaMancanegara
  • Advetorial
  • Link Corner
    • Dewan Pers
    • Persatuan Wartawan Indonesia
    • Serikat Media Siber Indonesia
    • Siberindo.co
    • Dinamika Sultra
    • Trias Politika
    • Metrosultra.id
    • Bikasmedia.com
SMSI - Dewan Pers Penasultra.id

Ikuti Kami :

Copyright © 2023 Penasultra.id, Made with ❤️