“Pada dasarnya semua manusia itu egois, segala yang kita lakukan merupakan cerminan dari kepentingan diri kita sendiri, yang membedakan hanya kadar, kontrol, dan momennya aja,” celoteh Ricky.
Secara musikal, “Rory (Season Ends)” terpengaruh oleh gelombang musik cool britannia dengan anasir pop manis yang atmosferik.
“Benang merahnya tetap pop, kita mencoba memadukan pengaruh personal dari masing-masing personil ke dalam satu kantung, jadilah Rory,” ujar Dito menambahkan.
Menurut Dito, “Rory (Season Ends)” hanyalah satu dari sekian banyak spektrum musik yang diusung oleh Levia. Mereka mencoba untuk tetap luwes dan tidak terjebak dengan kukungan sound yang membatasi.
“Semangat bermain-main di Levia cukup tinggi, eksperimentasi itu kayak keniscayaan yang pasti terjadi,” kata Dito.
Saat ini, Levia sedang menyiapkan debut mini albumnya yang akan segera dirilis akhir tahun nanti. Single “Rory (Season Ends)” dari supergrup lokal ini dapat didengarkan melalui ragam layanan streaming mulai Selasa 17 Desember 2024.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post