Namun hal ini tak bisa dipungkiri pandangan dan penerapan sistem sekuler kapitalistik yang mendasari penyelenggaraan pemerintahan membuat fungsi kepemimpinan bergeser dari fungsi yang seharusnya. Tak heran jika berbagai kebijakan yang dikeluarkan, yang menyangkut hajat hidup orang banyak tak jua tercapai.
Berbeda halnya dengan paradigma Islam. Pemerintah atau negara sejatinya adalah pelayan sekaligus pelindung umat, bukan pebisnis atau pedagang. Mereka wajib memastikan bahwa kebutuhan umat dan keamanan mereka terpenuhi dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana wajib pula bagi mereka memastikan kedaulatan dan kemandirian negara tetap terjaga.
Tak ada kepentingan yang menempel dalam kekuasaan Islam selain harapan beroleh keridhaan Allah SWT. Karena dalam Islam, kepemimpinan adalah alat penegak hukum-hukum Allah, yang amanahnya akan dipertanggung jawabkan di akhirat.
Melalui pelaksanaan hukum-hukum Allah inilah, kesejahteraan dan keadilan di tengah umat akan bisa diwujudkan. Karena hukum-hukum Allah ini memberi solusi komprehensif atas seluruh problem manusia, termasuk urusan jaminan pangan dan jaminan berusaha bagi rakyatnya. Untuk itu kita tidak bisa berharap kondisi akan berubah menjadi baik manakala hukum Allah belum tegak sempurna. Bahkan menjauhkan masyarakat dari cita-cita hidup sejahtera.
Inilah jalan perubahan yang dicontohkan Rasulullah SAW. sehingga beliau berhasil membangun masyarakat Islam yang ideal, yang dilanjutkan dari generasi demi generasi hingga belasan abad.
Sepanjang sejarah peradaban Islam itulah, kita mendapati contoh terbaik sistem pemerintahan yang dibutuhkan manusia. Di mana pengurusan urusan umat berjalan demikian sempurna sehingga umat bisa merasakan hidup sejahtera dan penuh berkah di bawah naungannya. Wallahu A’lam Bisshowab.
Penulis: Muslimah Pegiat Literasi
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post