Komentar senada diutarakan juri lainnya, Tjandra Wibowo. Ia setuju ‘Menghapus Mereka yang Mati’ secara alur rapih dan bukan sekedar angka.
“Saya sudah cocok dengan ibu Tjandra dan pak Nur. Ini bagi saya cukup jeli menjadi sebuah problem yang diangkat. Menghapus Mereka yang Mati, news value ok, data dan kelayakannya juga ok diprosesnya juga cukup kuat,” sebut akademisi dari Universitas Padjajaran, Dadang Rahmat Hidayat yang juga juri Kategori Media Televisi.
Sementara pemenang kategori Radio adalah Taufik, Ramli, dan Dian dari RRI Sintang berjudul Oksigen Terakhir untuk Ayah yang disiarkan 3 Agustus 2021.
Juri kategori ini, Frank Pedak langsung mengomentari judul siaran berdurasi sekitar tujuh menit tersebut.
“Sangat puitis dari judulnya. Dia juga menggunakan metode induksi yang umumnya digunakan dalam pemuatan human interest,” puji Frank.
Salah seorang juri lainnya, Harleyantara sependapat narasi yang disajikan dalam siaran ini tidak monoton.
“Bagi saya mixing narasi narsumnya oke bener, dari segi ilmuwan dan human interestnya masuk. Begitu juga dari sisi seninya masuk juga. Keren pokoknya,” terang dia.
Ketua Juri Kategori Radio, Awanda Erna mengamini karya Taufik dan kawan-kawan layak dijadikan sebagai pemenang Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2021.
“Kalau indepth, saya memilih perjuangannya dan feature saya memaklumi. Jadi kesimpulannya, Oksigen Terakhir untuk Ayah, yang menjadi unggulan ini sudah memenuhi tema aktual, semangat dan harapan. Secara teknik penyajiannya juga ok, dari sudut mixing dan dinamis,” ujarnya.
Pemenang Kategori Foto Berita
Sedangkan untuk kategori Foto Berita dimenangkan oleh Sigid Kurniawan dari LKBN Antara dengan judul Ganda Putri Indonesia Raih Emas Olimpiade yang terbit pada 2 Agustus 2021.
Setidaknya ada 214 foto yang diseleksi hingga akhirnya Tim Juri yang diketuai Oscar Matuloh didampingi Reno Esnir (praktisi) dan Melly Riana Sari (akademisi) sepakat memilih karya Sigid Kurniawan sebagai pemenang.
“Foto ini tidak hanya dinilai dari momen, teknis itu juga kami pertimbangkan, ekspresi yang terlihat disini benar-benar masuk, dapat, dibantu teknik yang baik,” singkat Melly.
Oscar tak memungkiri sebetulnya banyak foto dengan kejadian mirip karya Sigid tersebut.
“Foto ini dibuat fotografer Indonesia, pewarta foto kita. Saya juga kebetulan melihat jumlah foto-foto demikian, yang mirip kejadiannya dan kelihatannya kok gambar ini memang yang tepat,” ucap Oscar.
Meski sederhana, bagi Oscar, pengambilan gambar karya itu tidak mudah.
“Ini kalau nggak salah lensa 300an mili, dia harus berdiri di posisi tertentu, enggak boleh terlalu dekat. Tapi dia bisa meletakkan komposisinya dengan baik,” jelas foto jurnalis terkemuka Indonesia yang saat ini menjabat kepala Divisi Museum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara tersebut.
Kemudian dari segi momentum, saat ganda putri Indonesia, Apriani Rahayu terlihat menyeka air mata. Di belakangnya terdapat lima cincin berwarna yang saling terkait.
“Kita bisa melihat ada simbol negara kita, ada simbol bendera dan secara keseluruhan kita bisa melihat gambar ini menjadi satu jawaban tentang bentuk perlawanan kita juga terhadap satu kerja keras. Tapi perlu diingat bahwa olahraga ini berlangsung untuk melawan pandemi. Kita berhasil meraih dalam tanda petik pada waktu itu menyatukan Indonesia secara keseluruhan. Jadi ini simbol nyata, sebuah kekuatan foto,” jelasnya.
Pemenang Kategori Karikatur
Adapun pemenang kategori Karikatur diraih oleh Ashady dari JPPN.com, berjudul Kritiklah Daku, terbitan 16 Februari 2021.
Panitia menyediakan hadiah Rp25 juta untuk pemenang tiap kategori, trofi, serta piagam penghargaan dari PWI/Panitia HPN 2021.
Hadiah akan diserahkan dihadapan Presiden Joko Widodo pada acara puncak HPN 2022 di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, pada 9 Februari 2022 mendatang.
Untuk diketahui, hadir Dirjen Kominfo Usman Kansong, Ketua KPI Pusat Agung Suprio, Wakil Ketua Dewan Pers Hendry CH Bangun, Ketua Umum PWI Pusat dan juga penanggung jawab HPN, Atal Sembiring Depari, Ketua KPI Pusat Agung Supri, Direktur Program dan Berita LPP TVRI Irianto, serta Sekda Pemprov Sultra Nur Endang Abbas.
Editor: Basisa
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post