Jika hal ini dibiarkan terus menerus dan tidak ada kontribusi, kolaborasi dan sinergi antara orangtua, sekolah dan masyarakat maka siapa yang akan menjadi pendengar suara hati mereka?. Seharusnya ke tiga unsur utama di atas mampu berbagi peran siapa melakukan apa.
Untuk itu tema Great Teacher as a Coach mengajak para guru BK untuk memahami tehnik coaching untuk menghadapi para siswanya yang tidak bisa lagi dinasehati atau diceramahi. Guru BK saat ini dituntut menjadi teman, menjadi pembimbing bahkan juga sebagai orangtua bagi anak didiknya.
“Ibarat bertamu dan masuk ke rumah orang, musti ketuk pintu, mengucapkan Asalamualaikum, berinteraksi dengan ramah dan santai barulah melakukan tehnik coaching yaitu mengobrol dengan mengajukan pertanyaan karena metode lama menceramahi atau menasehati sudah tidak mempan,” kata Arief dalam hal memberikan solusi pada guru BK menghadapi siswa yang menutup diri.
Sementara itu, Rektor Universitas Yarsi, Prof. dr. Fasli Jalal yang juga Dewan Penasehat FKA ESQ dan Dewan Penasehat Universitas Ary Ginanjar (UAG) mengatakan, guru BK menjadi ujung tombak dan punya peran strategis dalam pendidikan karakter siswa karena kerap dituntut jadi orangtua, teman, mentor dari siswanya.
Olehnya itu, Fasli berharap ESQ corp dan FKA bisa terus mendampingi para guru BK karena ESQ sejak berdiri di tahun 2000 sudah memfokuskan diri pada pendidikan karakter menuju generasi emas Indonesia 2045.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post