Untuk itu, dalam pemerintahannya selama 5 tahun kedepan pihaknya mendorong pengembangan beberapa komoditas pangan.
Untuk memperkuat arah kebijakan ketahanan pangan, Haliana mengatakan, telah mengajukan Raperda Lahan Ketahanan Pangan Berkelanjutan ke DPRD. Dengan langkah ini akan memuluskan intervensi bantuan pangan berkelanjutan dari Kementerian untuk mengisi ratusan hektar lahan kosong yang ada di Wakatobi.
“Kali ini baru uji coba. Tahun depan kita akan dorong masyarakat kembangkan bawang merah secara besar-besaran karena sangat potensial dan pasarnya juga bagus. Kalau ini berhasil saya yakin masyarakat akan sejahtera,” ujar Haliana.
Saat ini, sejumlah masyarakat petani Wakatobi lainnya telah mengembangkan tanaman porang dan padi. Porang yang ditanam petani itu sangat baik. Satu pohon bisa menghasilkan 4 Kg. Harga mentah per-Kg Rp.7000.
“Kedepan Pemda akan membelinya dari masyarakat kemudian diolah menjadi bahan setengah jadi sebelum dipasarkan ke luar daerah. Selain itu kita sedang berpikir jenis pangan lokal yang memiliki nilai ekonomi tinggi agar bisa dikembangkan tahun depan,” ujar Haliana.
Program ketahanan pangan yang dicanangkan saat ini didukung dengan penetapan Wakatobi sebagai salah satu daerah dari enam kabupaten/kota sebagai pusat pengembangan bawang merah di Sultra.

Misi Penghijauan
Untuk mendukung visi konservasi, di tahun 2022 lahan yang sudah terisi dengan jati dan mahoni namun mati akibat kebakaran hutan akan ditanami pohon klengkeng sekitar 10 hektare. Selain misi penghijauan, pohon klengkeng juga akan berdampak ekonomi bagi masyarakat yang memanfaatkan buahnya untuk dijual.
Haliana optimis, dengan pengembangan bawang merah dan komoditas pangan lainnya pengganti beras mampu memperkuat ketahanan pangan di Wakatobi. Selain itu, juga dipercaya dapat menambah nilai ekonomi bagi masyarakat petani.
“Saya yakin sekali saat ini pangan kita mulai berkurang. Dari 14 jenis pangan lokal yang selama ini kita konsumsi sudah mulai dipasok dari Lasalimu dan Kamaru. Olehnya itu program merdeka pangan ini adalah langkah untuk mencegah krisis pangan kita dengan cara pengembangan besar-besaran,” kata Haliana.
“Selain ketahanan pangan kita terjaga, cara ini mampu mengurangi daya beli masyarakat kita ke daerah lain, sehingga uang masyarakat kita berputar hanya di Wakatobi,” tambah Haliana.
Untuk itu, guna mewujudkan program merdeka pangan, Haliana meminta kerja sama kolaborasi semua pihak, baik pemerintah pengusaha, pemangku adat dan masyarakat.
Para pemangku adat dilibatkan untuk membicarakan kerja sama agar lahan adat yang dimanfaatkan dapat berkontribusi positif demi kesejahteraan masyarakat Wakatobi.(Adv/*)
Penulis: Deni La Ode Bono
Editor: Irwan
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post