Oleh: Jaelani, S.IP., M.SI
Kalender 2025 telah berlalu. Namun, segala dinamikanya masih lekat di ingatan. Setiap diri kita memiliki catatan masing-masing sepanjang 365 hari belakangan. Ada banyak pelajaran dan hikmah dari jejak yang telah kita lalui untuk menapak waktu 2026 dengan optimis.
Sebagai anggota DPR RI Daerah Pemilihan Sulawesi Tenggara, saya memiliki catatan tersendiri selama perjalanan 2025. Dari ribuan titik yang kami kunjungi semenjak dilantik, mayoritas menginginkan keberpihakan kebijakan pemerintah hadir di tengah-tengah masyarakat. Hal ini segendangsepenarian dengan gagasan yang kami anut selama ini, Politik Kehadiran.
Politik kehadiran bukanlah sekadar datang, berfoto, lalu pulang. Ia adalah transformasi gagasan menjadi gerakan nyata yang menyentuh urat nadi kehidupan masyarakat. Bagi kami, ada empat sektor yang fundamental dan dekat dengan akar rumput. Yakni, pertanian, peternakan, perikanan dan kelautan, serta kehutanan. Kebetulan, keempat sektor ini beririsan dengan kerja-kerja legislasi saya di DPR RI.
Pertanian Moderen dan Berkelanjutan
Sulawesi Tenggara (Sultra) adalah tanah yang diberkati. Dari hamparan sawah di Konawe, perkebunan kakao di Kolaka Raya, pertanian jagung, hingga potensi rumput laut di pesisir Kepulauan Buton dan Muna, daerah kita memiliki modalitas yang lebih dari cukup untuk menjadi lumbung pangan nasional.
Namun, di tengah ancaman krisis iklim dan laju konversi lahan, kita harus bertanya: Mampukah kita terus memberi makan anak cucu kita dengan pola pertanian yang ada saat ini?
Ketahanan pangan bukan sekadar soal ketersediaan beras di pasar. Ia adalah soal kedaulatan. Kemampuan petani kita untuk berproduksi secara mandiri, berkelanjutan, dan sejahtera di tanahnya sendiri.
Saat ini, sektor pertanian kita menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, ketergantungan pada pupuk kimia yang berlebihan mulai merusak struktur tanah kita. Di sisi lain, regenerasi petani berjalan lambat. Anak muda kita lebih memilih merantau ke kota daripada turun ke sawah atau ladang.
Jika kita hanya mengejar kuantitas tanpa memperhatikan kualitas ekosistem, kita sebenarnya sedang “meminjam” kesuburan masa depan untuk kepentingan sesaat.
Inilah mengapa Pertanian Berkelanjutan, bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Ada banyak strategi untuk mewujudkan Pertanian Berkelanjutan. Misalnya, modernisasi pertanian dengan teknologi yang ramah lingkungan. Penggunaan alat mesin pertanian (Alsintan) harus dibarengi dengan edukasi pupuk organik dan pestisida alami.
Kemudian, memperkuat rantai pasok dan nilai tambah. Pemerintah harus mampu menyediakan pasar agar hasil panen petani terserap dengan harga layak.
Selain itu, perlunya Inovasi “Smart Farming” bagi kalangan Milenial. Selama ini, citra petani disematkan dengan “kotor dan miskin”. Padahal, petani adalah profesi yang turut menentukan nasib sebuah bangsa. Tanpa ada petani di desa-desa, masyarakat di kota terancam kelaparan karena ketiadaan pangan.
Dalam kacamata lain, petani layak disebut pengusaha. Sebab, modalnya berupa tanah dan anggaran bersumber dari dirinya sendiri.
Untuk itu, sebagai bentuk perhatian dan keberpihakan di sektor pertanian, saya terus memperjuangkan agar kebijakan pusat dapat turun ke masyarakat di daerah pemilihan saya. Seperti, alokasi Alsintan, bibit dan mendorong kebijakan pupuk yang murah.
Peternakan Terintegrasi
Sulawesi Tenggara memiliki potensi lahan yang sangat luas, namun ironisnya, kita masih sering mendatangkan telur dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Sebagai daerah yang agraris, kita seharusnya tidak lagi hanya menjadi pasar, melainkan menjadi pusat produksi.
Kunci untuk mewujudkan hal ini bukan sekadar menambah jumlah ternak, melainkan mengubah paradigma melalui sistem pertanian dan peternakan terintegrasi.
Peternakan terintegrasi adalah konsep “tanpa limbah” (zero waste). Dalam sistem ini, peternakan tidak berdiri sendiri, melainkan menyatu dengan perkebunan atau persawahan.
Kotoran ternak diolah menjadi pupuk organik untuk tanaman, sementara limbah pertanian diolah melalui teknologi fermentasi menjadi pakan ternak berkualitas tinggi. Dengan kata lain, ekonomi sirkular di tingkat desa.
Dengan kebijakan ini, maka bisa menekan biaya produksi yang klasik dikeluhkan petani. Selama ini, biaya pupuk kimia menjadi salah satu kendala. Dengan integrasi sektor peternakan, kebutuhan pupuk alami pertanian, dapat terpenuhi secara mandiri dan gratis. Kebijakan ini juga akan menciptakan lapangan kerja baru dan menggerakkan roda perekonomian di tingkat desa.
Menjaga Laut untuk Masa Depan Kita
Sulawesi Tenggara adalah provinsi kepulauan dengan garis pantai sepanjang lebih dari 1.700 kilometer. Potensi perikanan dan kelautannya bisa menjadi salah satu urat nadi perekonomian masyarakat pesisir.

Discussion about this post