Dengan demikian, Jika ditelaah lebih dalam, Ramdhanlah yang mampu mengikat keragaman ekspresi dan aktualisasi keberagamaan setiap orang. Orang yang sejatinya mengaktualisasikan nilai-nilai ramdhan secara menyeluruh tidak ada lagi sekat antara kelompok orang yang hanya menekankan pada praktek dan dimensi tertentu dalam ke-Islaman kita.
Ketegangan sosial, ujaran kebencian, aksi bullyng, saling mencaci sesama, bahkan menyakiti secara fisik, terhadap kelompok yang berbeda dalam mengekpresikan keberagamaannya mestinya tidak terjadi, karena kerap kali diulas bahwa tindakan-tindakan seperti itu dapat menghilangkan nilai dan pahala puasa.
Pertanyaannya, apakah aktualisasi nilai-nilai Ramdhan seperti itu hanya berlaku pada bulan Ramadhan? Jawabannya tentunya tidak. Itulah sebabnya Tuhan menghadirkan satu tahun dalam 12 bulan sebagai wadah menempaan dan revitalisai ke-imanan secara menyeluruh.
Tak terasa Ramadhan akan berakhir. Namun bukan berarti pasca Ramadhan kita kembali bebas melakukan tindakan yang bertentangan dengan keharmonisan sosial.
Kesalehan sosial sejatinya dapat dibangun sepanjang waktu. Tidak boleh ada sekat antara bulan ramdhan dan 11 bulan diluar bulan Ramadhan. Ramadhan tidak sekedar membangun ritual kegamaan saja. Akan tetapi merupakan satu kesatuan tak terpisahkan dari dimensi sosial.
Aspek sosial yang lebih luas dapat membangun berupa; kepedulian sosial, relasi yang harmonis, pelestarian lingkungan, dan kepatuhan kita pada pemerintah.
Bulan Ramadhan merupakan salah satu momentum yang tepat untuk membumikan agama dengan mengasah sikap keberagamaan, meningkatkan kesalehan sosial, menjunjung tinggi kebersamaan untuk kebajikan kemanusiaan. Wallahu A’lam.(***)
Penulis merupakan Dosen UHO sekaligus Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Tenggara
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post