Kehadiran Anies Baswedan di kegiatan BEM UI adalah oase ditengah kegelapan demokrasi saat ini. Semua anggap rezim sekarang, sangar menakutkan bagi mahasiswa dan aktivis, seperti monster serigala kelaparan (sistem omnipora) UU ITE monster baru dalam iklim demokrasi yang berdampak pada nepotisme dan hipokrit.
Kehadiran Anies Baswedan dalam kuliah umum dan dialog BEM UI sala satu cara exit dari totalitarian menuju demokrasi sehat. Rezim saat ini, telah melenceng mendiagnosa sistem demokrasi. Padahal, kezaliman itu muncul faktor tidak mau menerima kritik. Selama rezim sekarang, ada ribuan laporan UU ITE. Bahkan setingkat kepala desa berani melaporkan rakyat yang mengkritik dana desa. Tentu, kades-kades itu mengikuti pola pemimpin diatasnya.
Anies Baswedan menegaskan pada sesi tanya jawab dalam kegiatan BEM UI, bahwa kesehatan demokrasi agar tidak sakit, maka pemimpin harus mendengar dan menerima kritik tanpa menghakimi rakyat.
Inilah, harapan kita semua. Anies Baswedan cita-cita baru demokrasi Indonesia dalam lanskap perubahan dan perbaikan yang memahami substansi reformasi 25 tahun yang lalu. Jangan terulang lagi, rezim pemerintahan mendatang yang kerjanya menghukum dan zalim terhadap rakyat.
Pemimpin Indonesia yang lahir dari gelombang sirkulasi demokrasi harus bisa dengar kritik apabila margin eror datanya atau berselisih paham. Biasa saja. Toh, rakyat bicara bukan kapasitas pribadi. Tetapi, kritik sebagai ruang publik.
Kritik juga, tak bisa dikatakan hoaks karena pendapat itu sesuai hati nurani dan kenyataan yang dilihat (fakta realitas). Tulisan ini pun sesuai hati nurani yang mengalami perjalanan dan melihat kezaliman terjadi atas UU ITE itu.
Kedepan, apabila pemimpin masih nepotisme, kolusi, korupsi dan hipokrit, sama-sama (gotong royong) melawan kezaliman itu, agar keadilan tercipta sehingga bangsa ini tertuntun menuju negara yang sehat dan sejahtera.(***)
Penulis adalah Kritikus
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post