Diantaranya, isu human capital yang berkenaan dengan pekerjaan, skills, entrepreneurship dan edukasi. Delegasi G20 sepakat agar meningkatkan pelatihan reskilling dan upskilling yang berkelanjutan.
Selanjutnya, pada line of action yang kedua, yaitu inovasi, digitalisasi, dan ekonomi kreatif. Fokus pada pembahasan ini adalah delegasi akan memperkuat digitalisasi pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Line of action yang ketiga yaitu women and youth empowerment. Fokus delegasi G20 pada isu ini adalah kesetaraan gender yang lebih baik dalam hal kompensasi dan representasi perempuan dalam peran kepemimpinan. Serta menekankan pentingnya program pelatihan untuk mendukung pengusaha muda di bidang pariwisata.
Pada line of action yang keempat, yaitu climate action, biodiversity conservations, dan circular economy, delegasi G20 berkomitmen untuk membuat pariwisata global yang berkelanjutan.
Sedangkan, line of action yang kelima, yakni kerangka kebijakan, tata kelola, dan investasi, bahwa fokus delegasi G20 yaitu menekankan pentingnya kolaborasi untuk memastikan bahwa investasi dalam pariwisata adalah investasi inklusif yang bermanfaat pada masyarakat.
“Kami telah mencatat semua yang poin dalam forum ini. Masukan serta intervensi para panelis sangat bermanfaat dalam penyempurnaan Bali Guideline. Setelah ini kami akan membagikan conclusion tersebut kepada semua delegasi,” tandas Frans.
Dalam kesempatan itu, Frans Teguh mengundang para delegasi ke acara berbagai side event G20, yaitu Asian Venture Philanthropy Network Conference pada 21-24 Juni 2022 di Bali, International Wellness Tourism Conference and Festival pada 5-7 Agustus 2022 di Solo, dan World Conference on Creative Economy pada 5-7 Oktober 2022 di Bali.
Editor: Basisa
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post