Heru menyarankan penanganan rabies ini perlu melibatkan semua pihak yaitu bidang yang menangani kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan. Selain itu, kata dia, penanganan orang yang digigit hewan dengan rabies juga perlu tepat.
“Karena penanganan rabies itu sederhana. Jadi kalau sebetulnya tidak ada rabies di hewan maka tidak ada rabies di manusia, dan hanya melalui gigitan. Itu jelas konsepnya,” jelas Heru, Sabtu 3 Juni 2023.
Heru menambahkan pemerintah juga perlu memastikan kesediaan vaksin untuk hewan dan manusia terkait rabies. Ia menilai target pemerintah agar Indonesia bebas rabies pada 2030 dapat terpenuhi jika langkah-langkah ini dilakukan secara serius.
Penanganan Rabies
Kemenkes menyarankan orang yang digigit hewan dengan rabies seperti anjing agar secepatnya mencuci luka dengan sabun dengan air mengalir selama 15 menit dan beri antiseptik.
Selanjutnya bawa korban ke Puskesmas atau rumah sakit untuk dilakukan kembali pencucian luka dan mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) sesuai dengan indikasinya.
Gejala rabies pada manusia di tahap awal adalah demam, badan lemas dan lesu, tidak nafsu makan, insomnia, sakit kepala hebat, sakit tenggorokan, dan sering ditemukan nyeri. Setelah itu berlanjut rasa kesemutan atau rasa panas di lokasi gigitan, cemas, dan mulai timbul fobia yaitu hidrofobia, aerofobia, dan fotofobia sebelum meninggal.
Sementara gejala hewan yang terkena rabies dapat dicirikan dengan karakter hewan menjadi ganas dan tidak menurut pada pemiliknya, tidak mampu menelan, lumpuh, mulut terbuka dan air liur keluar secara berlebihan. Hewan juga bersembunyi di tempat gelap dan sejuk, ekor dilengkungkan ke bawah perut di antara kedua paha, kejang-kejang, dan diikuti oleh kematian.
Sumber: voaindonesia
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post