Kita bayangkan saja, andaikata benar pasir laut yang akan dikeruk seluas 24 miliar meter kubik yang dikatakan sedimentasi laut, untuk reklamasi, publik bisa membandingkan dengan reklamasi teluk Jakarta dan pulau lainnya. Bila potensi sedimentasi laut 24 miliar kubik itu dieksploitasi, rintihan Ibu Pertiwi yang kini dapat dirasakan, bahwa isi perut bumi Pertiwi Indonesia untuk membangun negara lain.
Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intannya terkenang
Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa
Menurut Ahmad Nurhidayat (2023) jika melihat ke belakang bahwa reklamasi Teluk Jakarta terdiri dari 17 pulau dengan total luasnya 5.176 Ha dengan rata-rata kedalaman laut yang diuruk 7,5 meter dibutuhkan pasir 5.176 Ha x 10.000 meter persegi x 7,5 = 388.200.000 meter kubik.
Jika potensi sedimentasi pasir laut sebesar 24 miliar kubik dan reklamasi Teluk Jakarta seluas 5.176 Ha membutuhkan pasir sebanyak 388.200.000 kubik, maka potensi sedimentasi pasir laut dapat membangun sebanyak hampir 62 kali luas reklamasi Teluk Jakarta dengan perhitungan 24 miliar meter kubik dibagi 388,2 juta meter kubik menghasilkan 61,82.
Sungguh ajaib kebijakan ini, padahal KKP kampanye berbusa-busa program ekonomi biru. Prioritas lingkungan. Tetapi sebatas itu saja. Malah sebaliknya, demi investor dan kepentingan pengusaha, KKP menjoroki konsepnya sendiri. Membuang ke tong sampah kampanye ekonomi biru demi menolong kantong para oligarki perusak lingkungan.
Ibu Pertiwi suatu ketika sadar, bahwa aktivitas pengerukan pasir laut, percepat hilangnya pulau-pulau kecil di sekitar wilayah zonasi, apalagi berbatasan langsung dengan Singapura maupun Malaysia. Tambah persulit nasib nelayan yang tak lagi mampu mencari ikan diakibatkan biota laut di dasarnya sudah rusak akan adanya aktivitas pengerukan.
Semua tempat penambangan pasir, mengalami masa suram dan dampak langsung yang merugikan. Sampai saat ini kerusakan itu belum bisa dikembalikan secara baik. Akibat kerakusan para elit negara ini.(***)
Penulis: Ketua Umum Front Nelayan Indonesia (FNI), Menulis dari Tempat Nelayan dan Pedagang Pengering Ikan, Kepulauan Seribu
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post