Merger IndiHome dan Telkomsel melalui inisiatif Fixed Mobile Convergence (FMC) merupakan salah satu strategi PT Telkom menjawab risiko ancaman resesi pada 2023. Tahun 2023, kata Ririek, diprediksi jadi tahun yang sangat menantang khususnya bagi pelaku bisnis dan korporasi dari berbagai sektor industri termasuk telekomunikasi.
Baik Telkom maupun Telkomsel diuntungkan dalam penggabungan FMC ini. Masuknya Indihome dapat menambah jumlah pelanggan Telkomsel sebanyak 9,2 juta, dari saat ini 156,8 juta.
Tahun 2023, mengacu pada tambahan 600.000 pelanggan Indihome selama tahun 2022, jumlahnya bisa jadi akan bertambah dengan satu juta, menjadi 10,2 juta. Jika ARPU (average revenue per user–rata-rata pendapatan dari tiap pelanggan) sebesar Rp274.000, diperkirakan Indihome akan menyumbang pendapatan ke emak barunya itu sebanyak Rp33-an triliun pada akhir 2023.
Namun Telkomsel juga harus membayar sewa penggunaan prasarana kabel telepon (fixed line) serta biaya layanan lain kepada PT Telkom. Ditambah kewajiban bedol desa karyawan Telkom ke Telkomsel sejumlah 600-an yang selama ini menangani Indihome yang akan membengkakkan jumlah karyawannya yang 5.300 orang.
Masuknya Indihome ke Telkomsel menjadikan value Telkomsel naik, sehingga saham SingTel akan tergerus (terdilusi) hingga sekitaran 10%. Singtel pun turut berkontribusi dalam proses ini dengan menyetor ke Telkom sekitar Rp2,7 triliun agar sahamnya bertahan pada 30,1%, saham Telkom menjadi 69,9%.(***)
Penulis: Pengamat Telekomunikasi. Kini, Penasihat Forum Pemred Media Siber Indonesia
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post