Kalau pun mereka dikenai sanksi, tetapi sangat disayangkan belum mampu memberikan efek jera. Padahal sejatinya hukuman yang diberikan dapat memberikan pengaruh bagi pelakunya atau pun bagi yang berniat melakukan tindakan serupa.
Dari itu, penyelesaian problem LGBT harus ada sinergi dari semua kalangan, baik itu masyarakat bahkan negara. Masyarakat dalam hal ini jelas mempunyai peranan penting, yakni membudayakan melakukan amar makruf nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat. Sebab jika hal itu telah tiada maka keburukan akan dianggap biasa, karena itu penting adanya saling menasehati dalam kebenaran.
Peran negara pun tak kalah penting, sebab negara memiliki kekuatan hukum dalam membuat aturan dan memberikan sanksi bagi anggota masyarakat yang melanggar hukum. Karena itu penting jauh sebelum sanksi diterapkan, perlu adanya upaya preventif dalam menangani masalah LGBT.
Di dalam Islam pun segala perbuatan yang bertentangan dengan syariat tidak serta merta langsung dijatuhi hukuman. Tetapi jauh sebelum tindakan tersebut terjadi, banyak hal yang dilakukan agar terhindar dari hal-hal yang tidak sesuai dengan hukum syara’. Karena secara preventif, Islam mengharuskan negara untuk terus membina keimanan dan memupuk ketakwaan warga negaranya. Karena hal itu akan menjadi kendali diri dan benteng yang menghalangi kaum muslim terjerumus pada perilaku yang menyimpang seperti LGBT.
Di samping itu, sikap penolakan keberadaan LGBT seyogianya karena dorongan keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT., bukan semata karena kemanusiaan. Karena itu, dalam hal ini penguasa memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam menyelamatkan generasi dan umat dari kehancuran akibat perbuatan maksiat kaum LGBT yang terjadi di masyarakat.
Oleh karena itu, sulit menghilangkan masalah LGBT di tengah masyarakat, jika masih ada celah yang memungkinkan hal itu terjadi. Karenanya, perlu adanya sinergi antara peran individu, masyarakat dan negara dalam membabat tuntas bentuk penyimpangan tersebut.
Tak kalah penting sebagai manusia yang sifatnya lemah dan terbatas serta serba kurang sudah selayaknya kembali pada aturan yang sempurna. Sebab yang lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba, jelas yang menciptakan hamba, yakni Allah SWT. Wallahu a’lam.(***)
Penulis: Guru Asal Konawe
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post